Tante Cantik Idamanku Web

“Hari ini kita akan mencatat resensi buku puisi,” kata guru bahasa siang itu.
“Aduh saya lupa bawa bolpoint, nih!” ucapku pada Abi, teman sebelahku.
“Nih.. pake punya saya aja!” Abi menawarkan padaku.
“Terus kamu sendiri pake apa?” aku balik tanya.
“Udah.. tenang saja!” Abi menjawab sambil tersenyum, senyuman biasa tapi dibalik senyuman itu ada sesuatu yang membuat Abi nampak menarik.
Seperti biasa, aku makan siang sendiri sebab kalau siang begini orang tuaku sedang bekerja dan kebetulan kakakku lagi ada pentas musik ke luar kota, tinggal aku sendiri saja siang itu di rumah. Setelah kutanggalkan pakaian sekolahku, kini hanya celana pendek dan t-shirt tanpa lengan yang membungkus 178 cm tinggi tubuhku. Selesai makan siang, aku beristirahat sambil mendengarkan musik dari tape yang melantunkan lagu manis berirama R&B dan vokal yang bagus dari tenggorokannya Whitney Houston yang melantunkan “Saving All My Love For You”
“Tok.. tok.. tok,” suara pintu yang diketuk dari luar.
“Siapa.. ya?” dengan malas saya beranjak ke pintu.
“Hai.. siang,” jawaban itu keluar setelah pintu kubuka, dan Abi dengan senyuman manisnya berdiri di hadapanku. Dan aku membalasnya sambil mempersilakan masuk.
Abi sudah biasa ke tempatku, entah itu main, ngobrol atau lainnya. Abi anaknya baik, tidak begitu cakep, perawakannya pun biasa saja bila dibandingkan dengan postur tubuhku yang tinggi 178 cm dan berat 75 kg serta wajah yang gimana.. ya? Abi sering memuji kalau aku sebenarnya tampan. Ah, tapi itu hanya Abi saja yang memuji tapi menurutku Abi lah yang kalau dipandang terus kayaknya ada sesuatu yang menarik atau semacam kharisma, apalagi kalau Abi tersenyum dengan memperlihatkan susunan giginya yang rapi, putih hal seperti ini yang sering membuatku memikirkan Abi.
“Eh.. nih aku bawa film bagus,” Abi menawarkan VCD kepadaku.
“Flim apaan sih,” sambil aku perhatikan sampul VCD, yang ternyata itu adalah Blue Flim, dan aku tersenyum sambil mengajak Abi ke kamarku untuk memutar flim itu, kebetulan di kamarku ada VCD-Player dan Abi mengikutiku masuk ke kamar.
Setelah beberapa saat melihat adegan demi adegan berlangsung dengan panasnya sampai-sampai membangkitkan nafsu birahi yang semestinya enak dinikmati pada malam hari. Aku melirik Abi yang duduk di sampingku dan secara bersaman Abi juga melirikku, dan pada saat pandangan kita beradu, aku merasakan ada suatu sentuhan di atas kulit pahaku yang ternyata itu adalah tangan lembut Abi yang terus memancing birahiku, sedang nafsu birahiku sudah terbakar sejak Abi masuk ke kamarku.
“Kamu tampan sekali,” Abi membisikkan kata itu di telingaku dan aku hanya bisa diam sambil memejamkan mata dan setelah itu Abi terus menciumku dari telinga, pipi terus menyatukan bibirnya dengan bibirku. Aku pun membalasnya dengan melumat bibir Abi yang lembut, sementara bagian bibir kami saling memberikan kenikmatan. Tangan Abi mulai bergerilya menyentuh setiap bagian tubuhku hingga tangan Abi kini sudah berada di balik celanaku dan mulai meremas-remas batang penisku yang sudah mulai tegang sehingga hanya rintihan-rintihan birahi yang keluar dari mulutku, yang membuat Abi semakin terbakar nafsu. Hingga tanpa sadar Abi sudah mulai melepaskan pakaianku, dan kini aku terlentang di atas kasur tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhku dan Abi kini mulai menanggalkan pakaiannya hingga aku dengan jelas melihat seluruh tubuh Abi yang ternyata berpostur bagus dengan warna kulit coklat khas Indonesia.
Kini posisi Abi menindih tubuhku dan Abi mulai menyerangku dengan melumat bibirku dan aku pun membalasnya dengan melumat bibir Abi. Abi mulai menurunkan kepalanya dan dengan menggoyangkan lidahnya Abi menjilati seluruh tubuhku, mulai dari bibir, leher, dada, perut sampai akhirnya lidah Abi menyentuh lubang kencing tepat di ujung penisku. Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara tersebut sambil tubuhku meliuk-liuk bagai ular begitu kurasakan kenikmatan yang di berikan Abi. Belum habis rasa itu, kini Abi memberikan rasa lain yaitu bagian kepala sampai batang penisku mulai dimasukkan ke dalam mulut Abi hingga goyangan kepala Abi turun naik dalam melakukan oral sex. “Akh.. akh.. ah..” hanya itu suara yang bisa kukeluarkan sambil mataku terpejam menikmati permainan oral sex yang disuguhkan Abi.
Abi kemudian menghentikan permainannya, dan kini Abi tidur terlentang di sampingku sambil menyuruhku untuk menindih tubuhnya. Sekarang posisinya, aku yang meninidih tubuh Abi.
“Masukkan.. ya..” pinta Abi sambil memegang penisku dan mulai di arahkan ke lubang pantatnya dengan posisi kakinya terbuka lebar. “Oke.. kalau itu yang kamu inginkan,” sambil mendesah kujawab permintaan Abi, sebelum aku mulai menyerang terlebih dahulu Abi mengolesi penisku dengan air liurnya, aku pun mulai menurunkan pantatku untuk mulai penyerangan tapi begitu bagian kepala penisku mulai masuk. “Aduuh.. jangan teruskan..” Abi menjerit sambil tangannya meremas pantatku agar aku tidak meneruskan seranganku dan tanpa kulepas bagian kepala penisku yang sudah masuk, aku merunduk mencium dan melumat bibir Abi dan Abi membalasnya sambil merangkulkan kedua tangannya ke leherku sambil memejamkan mata dan begitu Abi terbuai dengan permainan bibirku, aku pun perlahan-lahan mulai menurunkan pantatku untuk meneruskan seranganku tanpa melepaskan lumatan bibir, sulit memang tapi akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh penisku ke organ vital Abi, dan Abi pun mengeluarkan rintihan manja.
Dan kini aku mulai mendayung sebuah perahu birahi menuju pantai kenikmatan bersama Abi yang sesekali merintih melantunkan irama birahi. Keringatku pun mulai menghujani tubuh Abi yang berada di bawah tubuhku. Nampaknya jauh sudah kami berlayar di lautan kenikmatan hingga seluruh sendi-sendi dan pembuluh darahku mulai menyatukan protein-protein dan mengirimkannya melalui urat-urat untuk segera dikeluarkan melalui penisku dan pada saat aku berada diujung kenikmatan, seluruh otot-ototku menegang dan aku mulai menghimpit tubuh Abi. Kudekap tubuh Abi kuat-kuat sambil berbisik ke telinga Abi, “Akh.. Bi.. aku mau..” belum habis kata itu kuucapkan, aku langsung melumat bibir Abi sambil menghimpit tubuhnya, dan begitu cairan spermaku membasahi sanubari Abi, aku pun mengatur nafasku setelah mengarungi samudera birahi yang membuat nafasku terengah-engah.
“Puas..?” bisik Abi.
“Hmm.. yah,”sambil senyum kubalas Abi.
“Aku mohon jangan di copot dulu,” pinta Abi.
“Yah..” aku membiarkan penisku yang masih dalam keadaan tegang, tertanam di organ vital Abi, dan kini Abi melakukan onani, dengan posisi masih di bawahku. Aku pun membantu Abi mencapai klimaks dengan cara melumat dan sekekali kugigit puting susu Abi hingga Abi mendesah-desah nikmat hingga akhirnya Abi mulai menegang, mengerang karena Abi mulai mencapai klimaks. Dengan jelas aku melihat bagaimana mimik muka Abi pada saat mengerang menahan kenikmatan yang teramat sangat. Abi begitu manis, jantan, tampan dan kharismanya keluar berbarengan dengan sperma yang ia curahkan hingga membasahi bagian perutnya. Begitu Abi selesai organisme, kucium dan kubisikkan, “Bi.. aku sayang kamu..” dengan lembut kuucapkan itu dan Abi tersenyum sambil merangkul leherku menurunkannya dan mencium bibirku dengan lembut, sementara lagu Whitney Houston terus bergema melantunkan lagu, “I Still Believe You And Me” dan sayup-sayup masuk ke kamarku membuai kami yang masih berpelukan tanpa ditutupi sehelai benang pun. Ditengah-tengah alunan musik itu Abi berbisik, “Iqi.. jangan pernah tinggalkan aku ya?!” lirih ucapan itu keluar dari mulut Abi yang ditempelkan di kuping kananku, dengan mendekap Abi ke dalam pelukanku yang paling dalam dan dengan memberikan rasa kasih sayang tinggi itulah jawaban yang kuberikan.
Dan mulai saat itu resmilah hubungan kami sebagai sepasang merpati yang saling memberikan kasih dan sayang, serta cinta yang sejati sehingga hari-hari yang kami jalani berdua selalu penuh dengan warna-warna syahdu yang membiaskan lukisan cinta diatas kanvas asmara yang kami lukis di dalam hati kami berdua. Hingga detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, bulan, tahun dan terus berjalan sesuai dengan hitungannya sehingga membuat kami tersadar bahwa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Saat-saat berpisah memang sakit tapi itulah kenyataannya. Abi memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang dicintainya, sedangkan aku menyimpan duka dan lara sehingga kuputuskan untuk pergi dari kota kelahiranku dengan membawa kisah romansa asmara merah jambu yang kami ukir pada saat masa-masa romatis hingga kini kuputuskan untuk menetap di kota Yogyakarta sambil berharap datangnya seorang gembala cinta yang menawarkan cintanya padaku walaupun hal itu belum juga datang hingga sekarang, tapi kenangan manis bersama Abi selalu menghiasi bingkai lamunanku. “Ah.. Abi andai sekarang kau ada di sini..”
“Heey.. mikirin apa sih?” tiba-tiba tepukan teguran dari belakangku yang membuyarkan lamunanku.
“Oh.. nggak mikir apa-apa!” spontan kujawab pertanyaan itu sambil membalikkan tubuhku, yang ternyata itu teguran dari Tony teman sekerjaku.
Aku lalu tersenyum kepada Tony dan Tony pun sepertinya ngerti apa yang kupikirkan. Kemudian dengan menyisakan senyuman yang kuberikan pada Tony, aku beranjak pergi untuk melanjutkan pekerjaanku.
“Selamat malam, Bapak mau pesan apa?” dengan ramah aku memberikan pelayanan, untuk memperlihatkan keprofesionalanku sebagai seorang waitter di salah satu cafe di kota Yogyakarta.

~ oleh archilis pada Ming, 17 Mei 2009.

 
%d blogger menyukai ini: