Darah Perawan

Namaku Ilalang. Itu nama sejenis rerumputan. Aku sengaja menggunakan nama ini, karena dalam pengamatanku tumbuhan ilalang gampang hidup dimana-mana. Berserak di pepinggiran jalan. Ia menjadi saksi dari setiap kejadian di sekelilingnya, tanpa harus menonjolkan diri. Tapi terus terang, ada juga kegetiran di situ. Ilalang tak pernah diperhatikan makhluk lain, tak sebagaimana tumbuhan mawar atau melati. Ia terkucil sendiri. Dan kadang, sesekali dalam hidupku aku juga merasakan itu. Jangan heran bila nanti di beberapa tulisanku, nada getir ini bakal kental terasakan. Anggap saja itu perspektif penulis yang tak perlu diindahkan.
DIARY (1): TERAMUK GELOMBANG
Pagi itu Lang mulai hari dengan hati gembira. Seperti biasa, Kamis ini ia musti siaran radio jam 12 siang. Siaran untuk mengantar pendengar menikmati istirahat makan siangnya. Lang paling suka siaran jam-jam segini, hanya perlu sesedikit mungkin bicara, dan lebih banyak memilih lagu dengan beat-beat rada tenang, sekedar membangun suasana istirahat yang nyaman.
(sebuah opening tune terdengar)…Hallo kawan muda, jumpa lagi dengan Deva di 108.5 FM. Udah siap maksi atau masih terbenam dalam pekerjaan Anda? Terlalu banyak PR yang harus Anda kerjakan rupanya. Tak perlu berkeluh kesah, Deva akan menemani Anda hari ini hingga pukul 13 nanti dengan tembang-tembang manca negara… dan sebagai pembuka terimalah Phil Collins dalam Both Side of the Story.
Jemari Lang menurunkan panel mike di mixer dan menaikkan volume CD player 2, dan menurunkan volume CD player 1 di track mixer secara bertahap, hingga fade in dan fade out antara opening tune dan intro lagu itu terdengar mulus di telinga.
Deva adalah nickname siaran Lang. Tanpa terasa hampir dua tahun ini suaranya mengudara menambah sibuk frekuensi di pelataran udara sana. Ia menikmati kegiatannya itu di antara kesibukannya kuliah dan mengasuh anak. Asal tahu saja, usia Lang baru 22 tahun, tapi gadis ini sudah naik nikah dua tahun yang lalu. Meski sudah menikah ia tetap melanjutkan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi negeri di kotanya itu.
Suaminya, Denni terpaut 15 tahun lebih tua dari Lang. Ia adalah salah satu dari penyiar senior di radio yang sama. Selain siaran, Denni juga menjadi AE di radio itu. Dari honor mereka inilah, kebutuhan keluarga itu terpenuhi.
Dari perkawinannya itu mereka dikarunia seorang anak laki-laki, Randu namanya, baru 1 tahun usianya. Bocah itu membetot simpati siapapun yang melihatnya. Wajahnya bundar lucu. Matanya belok seperti ibunya, menyiratkan kecerdasan. Lang sayang sekali kepadanya. Sesekali diajaknya bocah itu ke tempat kerjanya ini, tapi kebanyakan ia menitipkannya di rumah ibunya setiap ia berkegiatan.
Mulut Lang ikut bersenandung, ketika pintu boks siarannya terbuka.

“Lang, ntar malem elo jadi bisa rekaman gak,” kepala Abi muncul dari balik pintu itu. Abi adalah produser musik kontemporer di radio itu.
“Hmmkayaknya bisa deh. Mulai jam 9 malam aja yach?”
“Oke, no problem. Ruang rekaman 2 bebas kok kita gunakan sampai jam berapapun,” tutur laki-laki itu.
“Kita jadi mo garap Enigma?” tanya Lang sambil memasukkan kaset ke CD satu, yang bakal jadi player lagu kedua.
“Yupp, itu aja. Ntar kita padukan dengan suara gambang. Aku pengen kita bereksperimen dengan gamelan jawa. Gimana menurut elo?”
“Yeeee…kan elo yang punya konsep. Soal gamelan kan aku blank sama sekali, jadi elo aja deh yang leading. Aku cukup bantuin elo meng-colect source suara yang lain, kay? Rekaman detak jantung gue jadi kepakai kan? Semalam aku juga sudah mampir kok ke Stasiun Tugu untuk ambil suasana pemberangkatan kereta. Jadi kayaknya udah lengkap deh kebutuhan kita,” jawab Lang nyerocos aja.

Abi menahan senyum melihat kata-kata keluar dari bibir gadis itu bak metraliur.
“Oh, okay,” sahut Abi sambil beranjak akan keluar boks siaran. “Tapi Lang…”
“Apa?”
“Elo serius nanti malam bisa kan?”
“Iya, serius dong, mosok main-main sih. Aku udah pamit kok ke Denni, dan dia bilang terserah, jadi ya lebih baik jalan lah,” jawab Lang. “Kenapa sih Bi?”
“Eeh, nggak apa-apa ingin memastikan saja kau akan ada di sini malam ini,” kata Abi setengah terbata.
Lang sebenarnya agak heran melihat wajah Abi penuh keraguan. Tapi diam-diam ia bisa menebak apa yang ada di dalam hati laki-laki itu. Beberapa waktu ini dia mengamati perubahan sikap Abi kepadanya. Cara laki-laki itu memandangnya, gerak tubuhnya, suaranya ketika memanggil namanya, semua hanya mengacu ke satu arah, laki-laki itu mencintainya. Memang selama ini Abi masih berlaku sopan, menjaga jarak, tapi sebagai perempuan dewasa, ia tahu persis isi hati Abi.
Tiba-tiba ada rasa perih menyelinap…hhh…andaikata…andaikata dia bisa membalas perasaan indah itu. Lang menjenguk isi dadanya sendiri, tatapan Abi selalu menembus relung hatinya. Kadang ia tergoda membiarkan dirinya terbuai dalam perasaan itu. Membiarkan tatap kasih Abi membasuh rasa kering yang ia rasakan dari perkawinannya sendiri. Tapi secepat niat itu terbersit di otaknya, secepat itu pula rasionya menolaknya. Tidak! Ia tak boleh terlena dengan tawaran madu yang sangat jadi bakal berbuah kepahitan itu. Dia bertekad menjaga kehormatannya sebagai seorang istri.
Dada Lang tiba-tiba terasa sesak. Beban, yang selama ini dirasakannya menyeruak. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres antara dia dan Denni, tapi ia tak mampu mendeskripsikan apa masalahnya. Ia hanya merasakan hubungan mereka dingin. Keintimannya dengan Denni tak sehangat yang dia harapkan. Lang sangat suka dimanja, tapi suaminya biasa aja. Lang sangat ingin tidur sambil dipeluk, perlakuan yang menurutnya sangat biasa sebagai suami istri, tapi jangankan dipeluk, ketika tangannya menyentuh tangan Denni secara tidak sengaja dalam tidur seranjangan mereka, dengan cepat suaminya bergerak, seolah tak terencana meniadakan sentuhan itu. Tapi, Lang tahu persis, Denni menghindar!
Hhhh… apa yang salah dari dirinya? Ia memang tak begitu cantik, tapi wajahnya manis. Tubuhnya sintal berisi, terkesan enak dilihat malah. Tinggi berat 160/60 tak kentara di permukaan karena tubuhnya proporsional dan olahraga telah menjadikan badannya kencang. Moleg.
Otaknya pun cerdas. Tingkat kemampuan adaptasinya superhebat dan toleransinya sangat luas – hal yang sangat membantunya bertahan survive selama ini. Bahkan, ia menerima ketika ia harus bekerja karena gaji Denni tak cukup memenuhi kebutuhan mereka. Dan itu berarti dia harus membagi waktu antara bekerja, kuliah, dan mengurusi rumah!
Masih banyak sebenarnya kelebihan yang bisa dilukiskannya, tapi apa manfaatnya? Tidak ada! Suaminya tetap saja menganggapnya sebagai perabot rumah lainnya; meja, kursi, ranjang tidur, atau bak cuci yang bisa digunakannya, atau dibiarkannya penuh debu dan berlumut kerak.
Sementara, saat ini, kehadiran Abi begitu menggoda. Laki-laki itu begitu memahami dirinya. Ia tahu bagaimana membesarkan hati Lang, membuatnya tertawa dengan leluconnya yang kadang konyol itu. Abi kadang bahkan bisa menebak apa yang dipikirkannya tanpa ia menjelaskan panjang lebar.
Tapi…tapi…Abi bukan laki-laki bebas, ia suami Indi.
Abi dan Indi. Dua makhluk ini di mata Lang nyaris menakjubkan. Laki-laki itu kadang bercerita tentang kehidupannya dengan Indi yang penuh suka duka. Betapa Abi sangat mencintai istrinya itu, dengan caranya yang khas. Konsep cinta bagi Abi bukanlah sesuatu yang mengikat. Ia tak ingin mengikat Indi, sebagaimana ia haus akan kebebasannya sendiri. Abi mengaku kadang jatuh cinta kepada orang lain di luar istrinya, tapi ia menegaskan perasaannya kepada Indi tak berkurang sedikitpun. Ia mengaku jengkel ketika sesekali Indi tak dapat memahaminya dengan utuh.
Di sisi lain, Indi pun sering curhat kepada Lang! Ia mengeluhkan perilaku Abi yang sangat seniman dan impulsif, kadang bahkan kelewatan. Indi jengkel sekali ketika Abi beberapa kali mengaku cinta kepada perempuan lain, tanpa tedeng aling-aling! Ia mengakui perlakuan suaminya tak berkurang sedikitpun, tapi pengakuan semacam itu selalu membuat hatinya panas.
“Aku ini cuma perempuan Lang. Rasanya ingin aku mengakhirinya sampai di sini,” kata Indi suatu saat. Tapi, Lang tahu persis, Indi tak bisa dipisahkan dari Abi.
Hanya ketika Abi ada di depannya, Lang mencoba mendeskripsikan perasaan perempuan yang paling enggan dibandingkan, apalagi dimadu. Sedangkan sewaktu Indi yang curhat kepadanya, maka Lang menyarankan agar dia kuat, memahami bahwa suaminya tak pernah berniat buruk kepadanya. Toh selama ini Abi hanya menjadikan perempuan-perempuan lain itu sebagai pacarnya. Sekedar inspirasi buatnya menciptakan nada-nada, berkarya sebagai pemusik. Tidak kurang, tidak lebih.
Tiba-tiba terbersit perasaat perih… jangan-jangan, perhatian Abi kepadanya selama ini juga hanya bagian dari spirit itu? Sekali lagi Lang melihat ke dalam dirinya: Lang sang Deva, memang inspiratif. Dan ia juga bukan orang bebas. Itu pasti…hhhh
“Lang..Lang..hoii, ngelamunin apa sih?” panggilan Abi membuat ia tersadar. Apalagi ketika laki-laki itu memberi tanda kalau lagu yang diputarnya hampir habis. Sambil tersenyum kecut Lang sigap memutar lagu di CD satu, setelah memberi pengantar kata secukupnya. Dan ketika dilihatnya Abi masih berdiri di dekatnya, menunggu jawabannya, Lang hanya bisa mengangguk, mengisyaratkan kesanggupannya hadir nanti malam.
“Sehabis aku menidurkan Randu, kay”
Baru saja Abi meninggalkan ruangan itu, ketika tiba-tiba Emma memberi isyarat pada Lang, mengatakan ada telepon untuknya di line 3. Lang menjawab dengan isyarat nggak mau diganggu siarannya, tapi gerakan bibir Emma mengatakan telepon itu penting sekali.
“Hhhh… siapa lagi sih yang gak tahu aturan. Udah tahu aku baru siaran gini kok malah ngeganggu,” rutuknya, tapi diangkatnya juga gagang pesawat telepon yang terletak di samping kirinya itu.
“Hallo,” ucap Lang.
“Apakah aku bicara dengan Lang?” suara laki-laki terdengar di seberang sana. Suaranya agak tidak jelas, seolah si penelpon sengaja menyamarkan suaranya. Nadanya juga bukan bersahabat, menggoreskan perasaan tak enak di hati Lang.
“Betul, siapa ini?”
“Tidak penting siapa aku. Kau lebih baik segera meluncur ke hotel Andika, kamar 120.” Suara laki-laki itu terdengar tegas tak terbantahkan.
“Sekarang? Tidak bisa, aku siaran. Lagian untuk apa sih?” tanya Lang penasaran. Enak saja orang menyuruh-nyuruh dia. Emangnya mo dikemanakan jam siarannya.
“Terserah!!!! Tapi kau akan menyesal setengah mati kalau tidak ke sana sekarang juga. Ini berkait dengan masa depan rumah tanggamu!” suara itu semakin tandas, dan “klik.. tuuutt.. tuuutt.. ” telepon itu putus. Tampaknya laki-laki itu meletakkan teleponnya.
Lang tak habis pikir, untuk apa ia ke hotel itu? Apa sih yang bakal dilihatnya di sana? Apa yang dimaksud laki-laki tadi? Berkait dengan kehidupan rumah tangganya, kehidupan yang mana? Kehidupan ‘tanpa rasa’ yang ia pertahankan? Tapi suara laki-laki misterius di balik telepon tadi menyiratkan ancaman, ada nada yang membuat hatinya mencelos tak enak. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Randu? Tapi tidak, ini pasti bukan karena anak semata wayangnya itu. Lantas?
Segera Lang memencet nomor telepon rumahnya, mencari Denni, tapi tak ada seorangpun yang mengangkat telepon itu. Rumah kosong. Kemana Denni? Bukankah tadi ini pamit nggak ngantor karena kepalanya pusing?
Sambil mengganti lagu demi lagu, tanpa lagi menggubris kata pengantar, Lang meneruskan pencariannya ke rumah orangtuanya. Ketika ibunya mengangkat telepon di seberang sana, Lang sedikit lega karena ternyata Randu di titipkan di sana.
“Setengah jam yang lalu Denni ke sini menitipkan Randu, trus mau ke dokter katanya,” Ibu Lang menjawab. Ke dokter? Tidak biasanya Denni ke dokter hanya untuk sekedar sakit kepalanya yang biasa itu.

“Lang…” Ibunya memanggil di balik telepon.
“Ya?”
“Eh..eh..kalian baik-baik saja kan? Tidak ada sesuatu antara kau dan Denni kan?” suara ibunya terdengar berhati-hati sekali.
“Tentu saja tak ada apa-apa di antara kami. Memang kenapa sih?” tegas Lang.
“Hhhh, tidak. Tidak apa-apa,” jawab ibunya.
Tapi jawaban ibunya itu bukannya menenangkan hatinya, justru semakin membuatnya terkesiap. Ia merasa ibunya menyembunyikan sesuatu. Pasti ada apa-apa. Pasti.
*****
wahai setan iblis penghuni neraka, bagi aku hangat nikmat dunia, mabokkan kesadaran dalam iming-iming, jebloskan nurani dalam kemaruk nafsu birahi
Dua tubuh itu bergumul sedemikian liar. Mereka saling berciuman, si laki-laki tampak gemas. Terlihat sesekali ia menggigiti bibir bawah si perempuan, sampai Windy, gadis itu berteriak manja. Dan ia membalas perlakuan itu dengan sama panasnya.
Windy sejak lama memang menginginkan laki-laki yang saat ini mencumbuinya itu. Paras laki-laki itu begitu tampan menarik. Kulitnya yang kuning langsat dan tubuhnya yang kekar itu membuatnya mimpi setiap malam. Dulu ia hanya bisa memandanginya saja. Situasinya jelas tidak memungkinkan dia mendapatkan perhatian dari lelaki itu. Tapi Seiring berjalannya waktu, Windy tahu harapannya tak bertepuk sebelah tangan. Setiap laki-laki itu datang ke rumah menitipkan ananknya, sinyal-sinyal saling terpancarkan dari kerling mata mereka. Mereka akhirnya berpacaran diam-diam. Dan ia tak keberatan ketika si lelaki mengajaknya bersebadan. Nafsunya sendiri selalu berkobar setiap dia berdekatan dengannya.
Lidah laki-laki itu kini berpindah menjilati payudara Windy, membuatnya menggelinjang penuh kenikmatan. Putingnya mengeras, nafasnya pendek-pendek, sudah tak beraturan, tanda nafsunya sudah di puncak. Laki-laki itu kemudian menyambar pinggang si perempuan agar lebih ke atas, tangannya menyambar sebuah bantal yang terletak tak berjauhan, mendorongnya ke bawah pantat si gadis. Tubuh telanjang gadis itu agak melengkung terganjal bantal, dan tanpa basa-basi laki-laki itu memegang kejantanannya, mengarahkan ke vagina si gadis. Kembali ia menindih tubuh langsing itu, menancapkan kejantanannya ke kemaluan yang masih sempit.
Laki-laki itu masih ingat betul. Ini kali ketiga ia menyetubuhi gadis ini. Dan tercetak dibenaknya betapa persetubuhan pertama telah memuaskan hatinya. Gadis itu masih perawan, dan dia, dia lah yang memerawaninya. Betapa beruntungnya dia. Dan kini, ia kembali bersetubuh dengan Windy. Gadis yang begitu muda, paling baru 17 tahun usianya.
Dengan posisi pantat terganjal, klitoris Windy yang peka menjadi sedikit mendongak. Sehingga ketika si lelaki kembali melanjutkan hujaman kelelakiannya, ia menggelinjang dan memekik merasakan sensasi yang bahkan lebih nikmat lagi dari yang barusan. Apalagi si laki-laki terus merangsang putingnya. Sesekali menggigitnya.
Windy menceracau di tengah kenikmatannya. Ditingkahi lenguhan si lelaki yang menggenjot pinggulnya lebih cepat. Dan tubuh-tubuh itu kembali bergerak ritmis, saling bergumul satu sama lain.
Persenggamaan itu hampir selesai, ketika sebuah ketukan terdengar di pintu kamar. Tak ada respon. Mereka tetap melecut nafsu demi nafsu untuk ke puncak. Ketukan itu kembali menggema. Masih didiamkan. Mereka ingin menyelesaikan senggamanya dulu. Sebodo dengan siapapun yang mengetuk kamar itu.
Ketukan itu berulang lagi, lebih keras. Gangguan berikutnya.
“Siapa?” teriak Denni gusar. Gelegak birahinya terhenti.
“Room service,” terdengar lamat-lamat suara seorang wanita dari luar.
Flash. Suara itu seperti pernah di dengarnya. Seperti suara…, ah, pasti bukan dia, nggak mungkin dia tahu aku ke sini. Selak kata hatinya sendiri menghibur. Toh ia tadi sudah memastikan situasinya aman untuk pergi ke tempat ini. Tangan si lelaki kini meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia memberi tanda kepada kekasihnya yang masih tergolek setengah tidur agar bergegas masuk, bersembunyi di kamar kecil yang menyatu dengan kamar hotel itu. Windy pun beranjak menurut.
Dengan enggan laki-laki itu bersijingkat mendekat ke lubang fisheye di pintu yang memungkinkannya meneropong situasi luar.
Kekasihnya yang kini berdiri di pintu kamar mandi, yang berdekatan dengan pintu kamar itu menatapnya dengan pandangan bertanya,
“Siapa?” gerak bibir Windy berbisik
“Nggak ada siapa-siapa kok,” bisik si lelaki menyeringai dan segera ditariknya tubuh bugil si wanita ke dalam pelukannya. Mereka kembali berciuman penuh nafsu, berusaha meluncaskan kembali birahi yang tertunda. Tapi, sebuah ketukan,…bukan ketukan…tapi gedoran kembali mendarat di pintu kamar itu. Gedoran itu bertalu-talu, menuntut agar pintu dibuka.
Si lelaki gusar kegiatan erotisnya terganggu, ia lepaskan pelukannya pada dari tubuh kekasihnya dan tangannya membuka pintu, siap menyemprot siapapun yang ada di luar. Tapi, ketika pintu itu telah setengah membuka, si lelaki spontan pucat. Jantungnya seolah copot melihat Lang, istrinya telah berdiri di luar dengan wajah kaku.
Lang mendorong pintu kamar hotel itu agar terbuka lebih lebar. “Aku menjemput Windy, dia ada di dalam bukan?” tanyanya dengan suara bergetar. Kentara sekali ia menahan tangis. Mukanya dingin, tak menunjukkan ekspresi apapun. Ketika dilihatnya Windy adik kandungnya berdiri terpaku tanpa busana di depannya ia cuma berbisik lemah.

“Pulang..” Tak terbantahkan.
Lang tak lagi dapat menahan airmatanya mengalir di pipi. Ia membalik tubuhnya dan berjalan terhuyung menjauh dari kamar itu. Tubuhnya gemetar menahan tangis yang menyesakkan dadanya. Perasaannya beku. Kenyataan pahit yang baru saja dihadapinya telah membuat otaknya berkabut tak mampu diajak berpikir apa-apa. Kenapa mesti Windy? Kenapa harus adik kandungnya?
Di tengah isaknya, perlahan gontai Lang meninggalkan hotel itu. Berjalan kaki…. berjalan, dan berjalan. Arah bukan lagi penting. Ia bahkan tak peduli hendak kemana kakinya membawa. Orang-orang memandangnya heran, perempuan dengan derai airmata tanpa suara. Ia tak lagi peduli. Mereka hanya sosok tanpa makna.
Lang kebingungan merasakan rasa sakitnya. Tak pernah ia siap dengan perasaan seperti ini.
“Aku harus mengalahkan tikaman rasa perih ini! Lang, kau tidak boleh patah hanya karena kejadian ini. Kuat Lang, kuat,” bibirnya berkemik lirih, berulang-ulang ia berkata pada dirinya sendiri. Tangisnya tanpa terasa berhenti.
Lang mencoba mengebaskan perasaannya. Dibiarkannya ingatannya semakin membeku. Tanpa sadar ia memblokir memorinya, mengubur dalam-dalam fakta yang tidak ingin dihadapinya. Bahkan di kemudian hari, ia tak ingat bagaimana ia sampai di hotel itu, dan menggunakan kendaraan apa.
Lang hanya ingat ketika Abi mengguncangkan tubuhnya yang terpaku diam. Merebut gagang telepon yang masih dipegangnya kuat. Menariknya keluar dari boks siaran, dan meminta penyiar lain menggantikan siarannya yg terhenti 2-3 menit tanpa suara.
Terngiang jawaban ibunya, yang akhirnya menjawab desakannya….
“Lang, tadi tidak lama setelah Denni pergi,…eh, eh…Windy juga tiba-tiba pamitan mau pergi ke tempat temannya,”
Lang diam menunggu.
“Dan perasaanku tidak enak melihat kepergian adikmu itu,”
Dada Lang menyesak mendengar itu. Denny & Windy sama sekali tak terpikir di benaknya. Mrngkinkah terjadi sesuatu di antara mereka? Inikah yang dimaksud si misterius tadi?
“Aku harus tahu,” bisik Lang pada dirinya sendiri. Dan tak dipedulikannya lagi kelebatan orang yang melarangnya pergi.
Ternyata kekhawatirannya terjawab. Sangat menyakitkan.
Dan Lang sang Deva hanya bisa menangis. Hanya menangis. Tangis tanpa suara, tanpa airmata. Tangis yang bahkan semakin tidak menemukan katupnya. Apalagi ketika ia tahu nanti, bahwa darah perawanannya lah yang jadi momoknya selama ini.
Mata-mata jelalatan, mencari sasaran
Dengus napas menggesa, tak sabar meniti jeda
Jantung birahi berdegup, menuntut meminta
Rakus…, kuhirup darah perawan
Hooii…!!
Perawan-perawan jelita
Puaskan aku dengan darah kalian!!!
(Tuhan, kapan kau renggut darah perawanku?)
Malam semakin tua, tetapi gelak tawa di stasiun radio itu masih sesekali menggema. Semuanya suara cowok. Rupanya meski siaran sudah habis tengah malam itu, masih ada saja orang yang tinggal, kongkow ngrumpi sana-sini, membicarakan apa lagi, kalau bukan soal cewek. Maklum, satu-satunya obyek pembicaraan antara cowok, yang tak lekang dimakan jaman, adalah soal cewek.
“Cerita dong Boy, gimana kamu memerawani Meity,” pinta salah seorang diantaranya.
Meity adalah pacar Boyke. Mereka dikenal sebagai pasangan ‘panas’ yang tak segan berciuman dan menunjukkan keintiman mereka di depan umum. Edan pokoknya. Mereka bahkan saling foreplay di depan rekan-rekan mereka selagi kongkow begitu.
“Kapan ya? Waktunya sih aku sudah lupa. Tapi masih terpatri di ingatanku peristiwa itu terjadi saat pesta perpisahan SMA kami. Di bawah panggung pementasan tepatnya,” jawab Boyke sambil nyengir.
“Wah, sebelum pementasan tutup tahun?” tukas Pri, yang merupakan sobat Boyke sejak lama. Kini mereka berdua sama-sama siaran di radio itu.
“Hahahaha,” gelak yang ditanya, “Nggak! Nggak Pri. Kamu salah. Justru tepat ketika anak A2 nge-band sehabis kita itu Pri.”
“Hah?”
“Masih ingat nggak, kan band kita kan tampil pertama kali? Abis itu si Meity, Andin, dan Tri nge-dance?” tanya Boy sambil menatap Pri dan kemudian senyum-senyum ke dua pendengar lainnya. Pri mengangguk.
“Nah, saat itulah otakku bersiasat, mencari cara untuk mendapatkan Meity. Habis, konak aku liat pusat perutnya yang diobral sewaktu nari itu. Mulus bok!! Ketika tubuhnya meliuk-liuk di panggung, mataku udah melotot saja. Jakunku sampai gelegak-gelegek nelen air liur beberapa kali. Busyet deh,” mata Boy menerawang.
“Trus, gimana kamu berhasil menyeretnya ke bawah panggung tanpa orang lain tahu?” tanya si Agil. Agil adalah fans lawas. Ia bahkan sesekali membantu ketika stasiun radio itu membuat acara offair. Aktif pokoknya.
“Hehehe, pertanyaan cerdasss,” seringai Boy sambil mengacungkan jempolnya. “Waktu itu kalau nggak salah, panggung kesenian tutup tahun itu terpaksa dibuat di lapangan basket. Aula besar baru direnovasi deh. Trus, belakang panggung tuh didirikan backdrop hitam, kanan kirinya ditambahi batas kain, hitam juga, jadi ada gang di antara kain itu, untuk pengisi acara mondar-mandir dari panggung ke kamar ganti tanpa ketahuan penonton. Asal tahu saja, ketika Meity turun panggung, aku langsung menggeret tangannya. Aku tarik dia ke belakang panggung yang hanya sanggup menyembunyikan tubuh kerempengku ini.”
“Ah ya, waktu itu kamu memang nolak aku ajak ke area penonton, rupanya karena alasan itu,” tukas Pri seolah baru ngeh kenapa sahabatnya menolak ajakannya waktu itu.
“Betul Pri. Dan di balik backdrop itu deh aku garap Meity, yang waktu itu belom menerima cintaku. Aku cium bibir dia. Meity semula menolak, tapi akhirnya mandah saja, rupanya dia nggak tahan menerima hujan ciuman yang aku berikan.” Jelas Boy seraya ngakak.
“Dan akhirnya aku geret deh dia ke bawah panggung, dan jebol keperawanannya di situ. Habis itu, jadilah Meity pacarku sampai sekarang, ketagihan dia rupanya ama dedek aku. Hahaha…,” Boy ngakak semakin keras.
“Asyik juga kali kalau dapet perawan gitu ya?” gumam Agil kepingin.
“Lho, ya kamu tinggal cari dong,” seru Boy.
“Cari gimana Boy? Masak kita harus ujicoba terus ampe nemu yang perawan gitu? Kamu kan tahu sendiri sekarang ini jarang banget cewek yang masih virgin gitu,”
“Yupp. Harus. Caranya ya emang trial terus deh. Soalnya kalau sampai kita blon ngerasain darah keperawanan, hhmmm, bakal penasaran terus deh,” tutur Boy.
Belum lagi salah satu dari mereka bereaksi terhadap perkataan itu, pintu di sebelah kanan mereka bergeser kasar, bahkan daun pintu itu ditutup lagi dengan sebuah bantingan. “Brakkk..!!!” Sepertinya si pembuka pintu kesal.
“Eh, Lang, buka pintunya perlahan saja dong,” ujar Pri setelah tahu siapa yang membanting pintu. Kaget juga dia, tidak biasanya Lang muncul selarut ini.
“Ah, pasti elo lagi perang ya ama Denni?” tanya Boyke sambil cengengesan, merasa lucu dengan guyonannya sendiri.
Fatal.
“Nggak usah ngurusi urusan orang! Sana cari terus darah perawanmu ke ujung dunia..!!” teriak Lang dengan muka memerah menahan amarah. Bibir gadis itu bahkan terlihat bergetar.
“Kalian benar-benar biadab. Kalian pikir aku nggak mendengar setiap pembicaraan tentang keperawanan tadi? Jangan salah, cukup lama aku berdiri di luar dan mendengar semuanya. KALIAN BIADAB..!! Kalian tidak adil mempermainkan nasib kaum perempuan!!”
“Lho..!” Boyke, Pri dan Agil sempat terlonjak mendapatkan tanggapan yang sangat tidak biasa ini. Biasanya Lang begitu sabar, tidak gampang terprovokasi amarahnya. Dan sekarang terlihat banget kalau gadis itu tersinggung berat dengan obyek pembicaraan mereka.
“Lang,” tiba-tiba terdengar suara Abi dari ujung atas tangga ke lantai dua. Suara yang begitu sabar. Yang membuat Lang tiba-tiba teringat bukan pada tempatnya dia berteriak penuh amarah ke orang yang tidak tahu masalahnya.
Muka Lang tertunduk. Ia menghela nafas panjang, mencoba meredam gejolak hatinya. Ditatapnya tiga orang cowok di depannya.
“Hhh,…. sorry,” ucapnya lirih. Kemudian cepat-cepat ia meninggalkan mereka sebelum mereka sadar betapa matanya dipenuhi air mata yang menjelang runtuh.
Lang setengah berlari menaiki tangga. Abi masih berdiri di ujungnya. Laki-laki itu mengulurkan tangannya, ia kemudian menggenggam tangan Lang, membimbingnya masuk ke ruang rekam 2. Dibiarkannya perempuan itu meringkuk di pojok ruangan sambil menangis.
Abi bisa menduga kenapa Lang tadi begitu reaktif. Baru tiga hari yang lalu ia tahu betapa perempuan yang ada didepannya ini didera musibah. Suami Lang berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri. Kenyataan mana yang bisa lebih pahit dari itu bagi seorang perempuan?
Abi justru heran, beberapa hari ini Lang tetap masuk kerja. Padahal sejak kejadian itu, ia mengira gadis itu pasti akan mangkir dari tugasnya. Makanya ia sudah minta Pri untuk stand by menggantikannya. Nyatanya tidak. Lang hanya mangkir terhadap janjinya rekaman malam itu, tapi paginya, ia sudah datang bahkan dua jam sebelum jam siarannya! Cuma, memang tak ada lagi warna ceria di wajahnya. Mata Lang juga terkesan sendu, tidak ‘hidup’ seperti biasanya.
Abi masih diam. Ia bahkan tak berani mengajak Lang bicara. Tak tega hatinya melihat perempuan yang diam-diam dicintainya itu menangis. Ingin sekali dipeluknya gadis itu, membisikkan kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tak berani. Tidak. Tidak sekarang.
Akhirnya badai tangis Lang mereda. Gadis itu kini menatap Abi dengan matanya yang sembab. Dhuh, rapuhnya dia, bisik Abi dalam hati.
“Sudah lega?” tanya Abi sambil mencoba mengajak tersenyum gadis itu.
Bibir Lang tersenyum getir. Ia mengangguk lemah.
Waktu seakan terhenti. Diam. Mata Lang menatap langit-langit, sementara Abi menunduk menatap ujung sepatunya sendiri, membiarkan Lang mengendapkan perasaannya.
“Bi” suara Lang memecah kebekuan itu.
“Hmm?” mata abi beranjak ke gadis itu.
“Seberapa besar sih arti keperawanan buat seorang cowok?”
Pertanyaan yang tidak terduga. Abi mengira gadis itu akan bertanya soal perselingkuhan, ia adalah laki-laki yang sering berselingkuh, tapi ternyata ia keliru. Otaknya bergerak cepat. Pasti soal ini tetap ada hubungannya dengan kasus Denni dan Windy.
“Hm, tergantung Lang. Ada yang sama sekali nggak mempedulikan itu. Tapi untuk sebagian lain kayaknya itu penting banget. Kenapa?”
Lang masih memandangi langit-langit ruangan itu. Dari ujung matanya mengalir lagi buliran air. Tanpa isakan.
“Aku… aku sekarang tahu apa yang membuat perkawinanku tak beres Bi. Selama ini rupanya Denni mengabaikanku karena menyimpan amarah. Ia kecewa… aku aku tak mengeluarkan ..darah.. perawanku… ketika berhubungan pertama dengannya,” bibir gadis itu bergetar, suaranya tercekat menahan isak tangis.
Abi terdiam. Bajingan, rupanya itu yang menjadi momok selama ini. “Dan apa karena alasan itu pula dia menggauli adikmu?”
Dilihatnya Lang mengangguk. “Malam ini dia mengakui itu Bi. Aku mendesaknya bicara setelah beberapa hari ini dia diam seribu bahasa. Dia bilang kecewa pada diriku karena hal itu. Tapi, aku retas protesnya. Aku bilang kepadanya betapa tidak adilnya dirinya. Kenapa dia tidak menyampaikan protesnya sejak saat kami melewatkan malam pertama kami, biar aku bisa langsung visum dokter.”
“Eh, eh, dan kau yakin memang masih perawan saat itu?” tanya Abi ragu-ragu, takut kalau pertanyaannya semakin membuat perempuan itu gundah.
Lang terdiam. Tapi Abi menyeksamai betapa gadis itu terlarut dalam lamunannya
******
Lang selalu malu-malu ketika mereka mulai saling menggerayang. Gadis itu bahkan terlihat tersipu ketika tangan Krisna melepas pakaiannya. Selalu begitu. Tapi Krisna tahu persis, Lang selalu menginginkannya. Dan biasanya, ciuman-ciumannya di daerah sensitif si gadis akan melumerkan kekakuannya.
Tubuh gadis itu kini tergolek di kasur yang terletak di pojokan kamar. Krisna memandanginya sejenak. Kulit Lang tampak bersih, matanya sayu mengundang. Payudaranya kencang berisi. Di bagian bawah, rambut kemaluannya tak begitu lebat, menonjolkan bukit kewanitaannya. Sangat menggairahkan.
Krisna kembali mendekat, menciumi leher gadis itu. Bau keringatnya begitu khas, harum, bukan harum parfum karena Lang memang tak pernah menggunakan pewangi, tapi aroma alami gadis ini sangat menggoda.
Dengan sigap Krisna menindih tubuh menggiurkan yang telanjang bulat tanpa sehelai benang itu. Ditariknya kedua lengan Lang ke atas kepalanya, diciuminya pangkal lengan si gadis yang nyaris tak berbulu. Gadis itu menggelinjang. Tangan Krisna kemudian menggerayang ke bawah pusat. Gadis itu menahan nafas dan menggigit bibir saat jemari Krisna mempermainkan bibir kemaluannya yang basah terangsang. Perlahan kedua paha Lang terkangkang semakin lebar. Krisna memegangi kejantanannya, menyapukan ujung kepalanya yang memerah ke bibir kemaluan gadis itu, membuat nafasnya semakin memburu.
Lenguhan manja terdengar dari bibir Lang, semakin membuat tegangan birahi Krisna naik ke ubun-ubun. Ia tak lagi bisa mengendalikan diri. Ia tak lagi mengusapkan kepala kejantanannya, dan bersiap menghujamkan senjatanya itu ke liang vagina si gadis. Perlahan, kejantanannya hampir menerobos masuk ke dalam kehangatan tubuh kekasih perawannya itu, ketika tiba-tiba tubuh Lang menyentak bangun.
“Tidak. Kris, jangan!” Lang menarik tubuhnya yang telanjang itu duduk merepet ke dinding
“Kenapa sih kau selalu menolak?! Kau tidak ingin memberikannya kepadaku? Kau tidak mencintaiku?” tanya lelaki itu gusar.
“Kris, lihat mataku. Apakah kau meragukan perasaanku kepadamu?”
Krisna memandang wajah bulat telur yang ada di depannya. Dia tahu Lang sangat mencintainya. Mereka memang saling mencintai. Lang bahkan mau pacaran sembunyi-sembunyi dengan dia, mahasiswa seni design, yang miskin dan belum jadi apa-apa. Padahal kalau gadis itu mau, pasti ia bisa mendapatkan pacar yang lebih bonafid.
Sejak tiga bulan lalu, ketika orangtua Lang positif melarang mereka pacaran, mereka tampaknya ingin anak gadisnya mencari pasangan yang lebih baik masa depannya. Tapi nyatanya, gadis itu justru setiap hari mampir ke kost-kost-an Krisna sepulang kuliah. Sejam-dua jam mereka berbagi rindu, berbagi mimpi akan masa depan. Kuliah Krisna di institut seni sudah di tingkat akhir. Dia sebentar lagi lulus dan dia akan melamar pekerjaan secepatnya. Ingin dipinangnya gadis itu meski orangtua Lang tak boleh. Dan seperti rencana mereka, bila perlu, mereka akan kawin lari. Tapi itu nanti, ketika ia sudah bekerja dan mampu bertanggungjawab.
“Kris,” panggilan Lang menyadarkannya kembali, “bukannya aku tak ingin memberikan keperawananku kepadamu. Bukankah sudah pernah kita bahas, kita akan menjaga yang satu itu sampai nanti waktunya. Aku ingin memberikan hal paling hakiki dari kewanitaanku itu pada suamiku,”
“Dan apa aku bukan calon suamimu?” sela Krisna masih setengah gusar.
“Kris, pahamilah, aku sangat berharap kaulah yang akan menjadi suamiku nantinya. Kau tahu, aku sangat mengharapkan itu, makanya aku abaikan larangan orangtuaku untuk berhubungan denganmu. Kau pikir itu mudah?” kata Lang merajuk merayu.
“Ambillah ini nanti pada saat yang tepat. Aku akan menjaganya untukmu.” Sambil berkata demikian gadis itu merangkulkan kembali lengannya ke leher Krisna. Ditatapnya laki-laki itu penuh kasih, dan kemudian Lang mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirnya, disusul dengan ciuman-ciuman lain yang membangkitkan nafsu kelelakiannya.
Tubuh Krisna menegang, birahinya kembali bergolak. Gadis itu selalu pandai meruntuhkan kemarahannya. Ia juga paling bisa membangkitkan nafsunya. Sudah beberapa kali ini mereka melakukan persetubuhan, meski tanpa memasukkan kelelakiannya ke liang vagina si gadis. Kissing, petting, necking, sudah bukan hal asing bagi mereka berdua, dan harus diakui, tanpa intercourse pun, ia sudah mendapatkan ejakulasinya.
Tubuh mereka kembali bergelut, seperti lintah yang saling lekat, menghisap satu sama lain. Erangan-erangan lirih dari mulut Lang kembali terdengar ketika perlahan Krisna membaringkannya lagi di atas kasur di pojok kamar itu, dan ia menghujani ciuman bertubi-tubi ke payudara si gadis. Sesekali dijilatnya puting Lang yang sensitif, digigitnya lembut puting berwarna cokelat itu. Dan biasanya pada tahapan ini erangan Lang semakin keras.
Tangan gadis itu pun aktif menggerayang tubuh bugil Krisna. Diremasnya bokong lelaki itu, dan perlahan tapi pasti gerayangannya berpindah semakin ke depan. Ditemukannya kejantanan lelaki itu tegap berdiri, siap untuk sebuah pendakian. Lang merespon ciuman laki-laki itu dibibirnya penuh gairah, dan ia mengarahkan kejantanan Krisna ke sela jepitan pahanya yang kenyal. Krisna paham kekasihnya menginginkan kepuasan dan mulai menggenjot kejantanannya di antara kedua labia mayora si gadis. Gesekan demi gesekan menyentuh kelentit Lang, membuatnya memejamkan mata, merasai kenikmatan. Tubuhnya menggeliat, rangsangan batang kejantanan Krisna di bagian itu selalu membuatnya terbang. Ia selalu merindukan sentuhan nikmat ini. Dan tanpa terasa jepitan pahanya semakin kuat, membuat Krisna terombang-ambing dalam ayunan birahi.
“Lang, aku mencintaimu,” Krisna membisikkan kata sihir yang semakin memacu goyangan pinggul gadis itu.
Keduanya kini seolah bersicepat. Tubuh mereka semakin basah dalam gerakan ritmis. Dan tak lama kemudian mereka bersama mengerang. Tubuh gadis itu melenting, ditekannya bokong Krisna agar ia tak kehilangan rasa nikmatnya. Sensasi geli-geli nikmat yang luar biasa. Dan muntahan ‘lahar’ panas dari ujung kepala kejantanan Krisna mengguyur kemaluan luar Lang. Rasa hangat yang masih ditingkahi dengan gesekan batang kemaluan Krisna itu telah membawa Lang ke ujung orgasmenya.
******
“Tidak! Aku yakin, aku masih perawan ketika kawin dengan Denni. Aku tak pernah membiarkan pacarku yang dulu memerawaniku,” lemah Lang berbisik seolah meyakinkan dirinya sendiri.
“Tapi, kemana darah perawanku?” kembali sebulir airmata membasahi pipi gadis itu.
Abi tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia beranjak mendekati Lang. Digenggamnya tangan gadis itu yang kini dingin dan gemetar.
“Sudahlah Lang, percuma kau menangisinya saat ini. Kau hanya harus teguh pada keyakinanmu bahwa kau memang tidak pernah melepas keperawananmu pada orang lain. Lagi pula, tidak semua keperawanan pecah mengalirkan darah,” Abi mencoba membesarkan hati Lang, “Pulanglah! Hari semakin larut. Aku antar, yuk!”
Tapi gadis itu tak bereaksi terhadap ajakan Abi. Matanya justru menatap Abi lekat-lekat.
“Tidak Bi, andaikata ada tempat lain untukku pulang, saat ini,” keluh gadis itu, “dan, aku tadi sengaja datang ke sini untuk sesuatu urusan, berkait dengan kamu.”
“Dengan aku?”
Lang mengangguk. “Tadi ketika aku bantah tuduhannya atas keperawananku, Denni tahu kalau dia tak punya pijakan kuat untuk menjadikan keperawananku sebagai alasan perselingkuhannya dengan Windy. Dandan dia menarikmu dalam badai ini.”
“Apa maksudmu?” Abi masih belum tanggap dengan perkataan itu.
“Di tengah keputus-asaannya, Denni mencari seribu satu pembenaran atas perselingkuhannya itu, dan IA MENUDUHKU BERSELINGKUH DENGAN KAMU. Dan ia berkata perselingkuhannya hanyalah upaya dia membalas hal itu.”
“Tapi, Kau tahu itu tidak benar! Salah besar! Aku tak pernah menyentuh seujung pun rambutmu. Hubungan kita selama ini sangat profesional bukan, selalu urusan kerja,” bantah Abi.
Ada rasa perih di hati Lang mendengar jawaban Abi. Hhh, jadi laki-laki itu tidak mencintainya. Semua perhatiannya semata berkait dengan kesenimanannya itu. Hampir ia menundukkan kepalanya ketika Abi memegang kedua pipinya, memaksanya menatap laki-laki itu.
Abi melihat kilatan pedih itu di mata Lang. “Tidak Lang, jangan salah paham! Maafkan aku. Selama ini aku berusaha tetap profesional, karenakarena aku ingin menyembunyikan perasaanku.”
Mulut Abi tiba-tiba berat sekali. Di hatinya berkecamuk keinginan, antar ingin mengatakan perasaannya, tapi takut hal itu akan menimbulkan komplikasi baru pada masalah ini. Tapi di sisi lain ia juga khawatir, gadis itu semakin terpuruk dalam rasa tidak percaya dirinya, padahal itu sangat dibutuhkannya. Dan ia, Abi Wicaksono bisa memberikannya!
Akhirnya, Abi menyerah pada kata hatinya yang paling dalam. “Lang, aku tak sanggup lagi menyimpan perasaan ini. Aku.aku mencintaimu.”
Mendengar pengakuan itu, mata Lang membelalak lebar. Perasaannya serasa diguyur air es, dingin, menyejukkan. Tak kuasa lagi ia menahan diri. Ia menghambur ke pelukan Abi, dan menangis di dada laki-laki itu, yang segera merengkuhnya erat. Sangat erat. Memberikan seribu rasa yang dibutuhkan perempuan itu. Rasa aman, rasa sayang, dan rasa betapa ia dibutuhkan.
Ingin sekali Lang menghentikan gerak waktu, hanya sampai di sini. Dilupakannya masalahnya. Ditepisnya ingatan bahwa laki-laki itu bukan lajang. Tak lagi dia ingat betapa ada Indi yang akan kesakitan oleh pengakuan ini. Lang hanya tak ingin beranjak dari kebahagiaan ini. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Abi, tersenyum di antara tangisnya. Ia letakkan sejenak bebannya dalam pelukan itu. Lang menemukan oase setelah pengembaraannya yang panjang.

Di sini aku temukan kau,
Di sini aku temukan daku,
Di sini aku temukan arti,
Serasa tiada..sendiri.
Hujan deras baru saja reda, menyisakan gerimis dan rasa tintrim di hati mereka yang belum bisa tidur. Pintu-pintu rumah di kampung itu telah rapat tertutup sejak sore. Lampu-lampu kamar banyak yang telah redup. Hanya lampu teras dan neon jalanan saja yang tetap menyala terang. Padahal, jam belum lagi menunjukkan pukul 10 malam. Rupanya orang enggan keluyuran di tengah guyuran hujan, memilih meringkuk dalam hangat selimut dan merajut mimpi-mimpi.
Suasana sepi itu terkoyak oleh pekik tangis bocah dari rumah bercat putih di samping masjid. Tangis kanak-kanak yang terbangun dari tidurnya yang lelap. Tapi tangis itu segera terhenti. Terdengar gumaman tak jelas, disusul dendangan lagu ‘nina-bobok’.
Tidurlah insan, tidurlah kekasih hati Hari sudah larut, pejamkanlah mata..
Di sebuah kamar, di rumah itu, Lang sedang berbaring miring sambil menyusui Randu. Bibirnya masih berdendang lirih. Tangan menepuk-nepuk bokong si kecil. Dipandanginya wajah bening yang kini tampak lega, sibuk menghisap putingnya, rakus menghisap air susu. Kehidupannya.
“Randu, jadilah anak yang baik. Berkacalah pada cermin hidup ini, Sayang. Tidak semuanya sebening kristal, tapi yakinlah tak semua juga segelap kelam malam,” lirih Lang berucap. Punggung jemarinya mengusap pipi bocah itu, mengusapkan sejuta kasih yang tak akan terwakili oleh kata-kata.
Dilihatnya nafas Randu semakin teratur, lelap telah membius anak itu ke dalam mimpi antar berantah. Lang beranjak perlahan, turun dari ranjangnya. Ia beringsut ke meja rias dekat jendela. Dipandanginya gerimis yang membasah di kaca. Dingin udara semakin menambah gamang hatinya. Saat ini, detik ini, Lang tak tahu harus berbuat apa.
Ia menoleh ke bayangan di depan cermin. Dilihatnya seorang perempuan menatap dengan bola mata hitam kecokelatan bersalut sendu. Rambutnya yang ikal panjang sepinggang membuatnya terlihat lebih dewasa dari usianya. Ia baru 22 tahun, tapi pasti tak ada yang akan menduganya seperti apa adanya. Tempaan hidupnya sejak kanak-kanak telah menjadikannya perempuan yang dewasa sebelum waktunya. Ia praktis menjadi anak tertua. Satu-satunya saudara tua adalah kakak laki-lakinya, yang seperti umumnya, kedewasaannya segera terserobot oleh Lang. Perempuan biasanya jauh lebih cepat dewasa. Itu yang terjadi padanya.
Tidak mengherankan jika ia kemudian menjadi tumpuan ibunya untuk ikut membesarkan adik-adiknya. Tekanan sosial ekonomi membuatnya terbiasa berbagi dengan enam saudaranya, ia tak pernah beroleh sesuatu untuknya sendiri, dan ia tak pernah mengeluh. Bahkan saat ini ketika miliknya, suaminya, juga ‘diminta’ Windy, adik kandungnya, ia seolah tak punya kekuatan untuk mengatakan tidak. Ia bahkan rela jika suami dan adiknya kawin. Biarlah ia tidak menjadi apa-apa, meski itu sangat menyakitkan.
Tapi tapi kenapa Denni tak menerima tawarannya waktu itu?
“Kawinlah dengan Windy, jika itu bisa membuat kalian bahagia. Tapi ceraikan aku dulu karena agama kita tak mengijinkan dua saudara kandung diperistri oleh orang yang sama,”
Suaminya hanya diam, seperti biasa. Apakah tawarannya kurang menarik?
“Kau mau aku melamarkan Windy untukmu?”
Tetap diam. Ada nuansa gelisah di mata Denni yang beberapa hari ini cuma terduduk di ranjang. Ia tak berani menatap Lang.
Itu kejadian dua bulan yang lalu. Denni sama sekali tak menanggapi tawarannya. Bahkan seminggu kemudian ia pamit akan ke Jakarta, butuh waktu berpikir katanya.
Berpikir.
Apalagi yang hendak dipikirkannya? Apakah ia akan memilih Windy atau dirinya? Apakah perkawinannya akan berjalan terus? Akan kemana nasib membawanya? Seribu tanya berkecamuk dalam benak Lang.
Diraihnya sisir di meja rias, ia mulai menyikat rambutnya. Masih dipandanginya bayangan di cermin.
Wahai Cermin,
Cermin di dinding,
Katakan padaku,
Siapakah aku?
Lang seolah berdiri di padang pasir gersang, sendiri. Ia kehilangan arah. Kasus Denni dan Windy telah memporakporandakan keyakinannya atas kesetiaan dan kesakralan sebuah perkawinan. Perkawinan ternyata cuma seikat komitmen yang boleh dilanggar kapan saja. Menorehkan rasa pedih yang tak juga hilang. Sampai hari ini. Sore tadi.
Masih segar dalam ingatannya ketika abi mengajaknya mewawancarai Romo Adinegoro, empu gamelan dari ndalem keraton yang memang piawai membuat alat musik tradisional itu. Mereka diterima pukul empat sore. Wawancara itu tak berlangsung begitu lama, hanya setengah jam saja. Sehabis itu rencananya mereka akan mengolah feature “Gamelan dalam Perspektif Musik Modern”. Tapi dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Lang merasakan perasaannya begitu kelabu. Manik depresif. Di tengah keceriaan, hatinya bisa meluncur terkubur dalam gelap kesedihan. Ia menangis tersedu-sedu. Tak dipedulikannya Abi yang memandangnya dengan tatapan prihatin.
Laki-laki itu memperlambat laju mobilnya. Ia mengubah arah. Dipilihnya jalan yang lebih sepi, mengarah ke selatan. Abi tahu persis, lebih baik membiarkan Lang menghabiskan tangisnya. Dan semakin sedikit orang melihat Lang menangis, semakin baik.
Jalanan menuju Wonosari begitu indah di sore hari. Lereng pegunungan seribu mengkilap keemasan tersapu cahaya mentari senja. Pepohonan meranggas di sana-sini, menonjolkan hijau daun yang tersisa. Sesekali tampak burung-burung melesat pulang ke sarangnya. Angin sore berhembus menyegarkan, memberikan kekuatan pada Lang yang kini mengalihkan pandangannya ke pemandangan di sekelilingnya. Tangisnya telah berhenti beberapa saat lalu. Diliriknya Abi yang menyetir dengan tenang. Mobil yang mereka kendarai masih menuju ke selatan.
Lang berterimakasih dalam hati, laki-laki itu tak bertanya apa-apa. Ia tahu akan kesulitan menjelaskan isi hatinya yang masih gampang terluka, bahkan oleh kenangan yang tak seberapa.
Ah, tiba-tiba ia ingat. Ini adalah jalan menuju Hutan Wanagama. Kalau mau, ia bisa mampir ke pinggiran jurang di pinggiran hutan itu. Dulu sekali ketika SMA, ia sering beramai-ramai naik motor dengan gank-nya ke situ.
“Bi, bawa aku ke pinggir jurang Wanagama, gih!”
“Eh, kamu mau aku mengantarmu bunuh diri?”
Lang tersenyum, tahu bahwa Abi menggodanya,”Nggak lah. Aku sudah tenang kok. Aku hanya ingin menikmati pemandangannya. Kau tahu jalan menuju ke sana?”
Abi mengangguk, seulas senyum terbersit di pinggiran bibirnya. Tak lama kemudian ia membelokkan mobilnya ke kiri. Dilewatinya jalanan yang mulai tak beraspal. Pepohonan di sekeliling mereka semakin rapat. Sekitar sepuluh menit kemudian di pinggirkannya mobilnya. Terdengar mesin mobil itu menderu sebentar dan kemudian mati.
Lang masih duduk diam. Diedarkannya pandangan ke sekililingnya yang hijau, menyuntikkan perasaan damai yang dibutuhkannya.
“Ehem., kau akan turun dari mobil dan mendaki naik, atau aku perlu menyihir sayap di mobil ini agar membawa kita terbang ke pinggiran jurang di atas sana,” Abi berkata sambil menatapnya, menggoda.
Lang tersenyum, tersipu. Ia kemudian membuka pintu di samping kirinya. Turun. Dilangkahkan kakinya menaiki bukit. Ditinggalkannya Abi yang mengunci pintu mobil.
Jurang itu tak begitu terjal. Di lembah sana tegalan sawah tadah hujan menghijau oleh pucuk-pucuk tanaman jagung. Lang melihat beberapa orang memanggul cangkulnya, waktu pulang ke rumah mereka. Sendau gurau mereka di bawah sayup-sayup terdengar. Dunia tanpa masalah. Dipejamkannya matanya. Dihirupnya udara yang terasa begitu segar. Ia mereguk suasana tenang di sekelilingnya. Nuansa ini yang dirindukannya saat ini.
Abi tadi sengaja berlambat-lambat, membiarkan Lang jalan duluan, karena ia tahu perempuan itu perlu waktu sebentar untuk dirinya sendiri. Dan lima menit kemudian ia menyusul perlahan menaiki bukit. Ditemukannya pemandangan luarbiasa di depan sana. Matahari senja menerpa pinggiran jurang yang memanjang dari timur ke barat itu, menciptakan garis bayang tubuh Lang yang berdiri di tubir jurang. Menakjubkan. Rok panjang yang dikenakan perempuan itu berkibar tertiup angin. Bola matahari yang kini terlihat bulat tak menyilaukan memberi bingkai keemasan di belakang sana. Silhouette tubuh Lang tercetak dalam balutan pakaian yang menempel karena tekanan udara bergerak itu. Rambutnya tergerai panjang, sebagian menutup pipinya yang terlihat segar. Mata gadis itu berbinar-binar. Tak terlihat sama sekali betapa ia tadi menangis. Yang tampil sekarang adalah sebuah kematangan sekaligus keceriaan hidup. Abi sejenak berhenti, meresapi lukisan indah yang ada di depannya.
Abi harus mengakui pesona Lang begitu luarbiasa baginya. Sejak mengenal Lang hampir dua tahun lalu, ia seolah tersihir. Otak kreatifnya tiba-tiba bangkit membara. Ia merasakan gelombang yang jarang dirasakannya. Komposisi demi komposisi mengalir dari tangannya. Karya musiknya menjadi tidak biasa. Ada greget, ada jiwa yang hidup dalam setiap dentingan nada yang disodorkannya untuk telinga. Koleganya mengakui hal itu. Mereka iri. Mereka bertanya darimana dia mendapatkan ruh sedahsyat itu. Dan kini, dihadapannya, ruh itu menjelma.
Tak sadar Abi mendekat. Disentuhnya bahu Lang. Gadis itu menengok lembut. Semua seolah melambat. Mata mereka bersitatap. Tak ada lagi kekuatan di bumi ini yang sanggup menghentikan mereka. Dan wajah-wajah itu saling mendekat, berujung pada kecupan yang begitu lembut. Penuh perasaan. Kecupan yang perlahan menghebat ditingkahi energi birahi yang membara, yang selama ini tertahan oleh kekangan moral yang tidak perlu.
Hanya desiran angin menyaksikan penyatuan sukma di bibir jurang itu.
*****
Wahai Cermin,
Cermin di dinding,
Katakan padaku,
Siapakah diriku?
Apakah aku peri
Ataukah serupa iblis
Bertopeng peri-peri?
Lang masih terpaku menatap bayangannya di cermin.
Kejadian sore itu telah melahirkan perspektif baru di dirinya: Aku bukan lagi istri yang suci. Tubuhku telah terjamah tangan lain yang tidak berhak. Ia tak lebih adalah Windy lain yang menggerogoti perkawinan seseorang. Tak kurang dari para penganggu rumah tangga orang lain.
Ia merasakan perih menyelinap, tapi segera rasa itu menguap berganti dengan kenyataan baru yang mengherankannya. Hatinya yang remuk akibat penghianatan Denny dan adik kandungnya sedikit lilih. Setidaknya ia tak merasa lagi terlalu ditikam.
Kesetimbangan telah mencapai titik nadirnya
“Hhhh, aku harus bicara kepada Indi. Aku harus minta maaf kepadanya,” bisik Lang lirih kepada dirinya sendiri. Harus.
******
Pagi sekali Lang bangun. Ia bersiap untuk sebuah ‘pengadilan’. Lebih cepat ia mengakui kesalahannya di depan Indi, akan semakin meringankan beban di dadanya. Setelah menitipkan Randu pada ibunya di kampung sebelah, ia segera menawar becak. Tujuannya jelas, rumah Abi.
Jalanan kampung itu agak ramai. Anak-anak berseragam berseliweran menuju sekolahnya masing-masing. Hmm, semoga anak Abi dan Indi juga telah berangkat. Semoga rumah itu sepi dan hanya ada mereka berdua, harap Lang pada dirinya sendiri.
Akhirnya sampai juga becak yang ditumpanginya di depan rumah berpagar bambu. Ia biasa berkunjung ke sini, tapi kali ini rasanya rumah itu menjadi berbeda. Tampak asing. Ia tahu persis tak ada yang berubah pada rumah itu. Dirinyalah yang telah beralih rupa, dari si suci ke si tak tahu diri. Dulu dia adalah istri yang menjaga martabat dirinya, kini dia hanya perempuan pengusik rumah tangga orang. Apa bedanya dia dengan Windy?
Setelah membayar ongkos becak, Lang segera menggeser engsel pintu di sebelah bawah. Di dorongnya pintu besi itu agar dia bisa menyelinap masuk, dan ditutupnya lagi pagar dengan rapat. Dilangkahkan kakinya menuju ke sisi samping rumah. Ia tahu, jam-jam seperti ini Abi dan Indi pasti sedang sarapan di sana.
Dari jauh, ia bisa melihat mereka berdua berbincang. Apakah mereka sedang membicarakan aku? Sebersit pertanyaan yang tak terjawab. Ekspresi Indi begitu biasa, juga Abi. Seolah tak ada apa-apa. Apa mungkin Abi belum mengatakannya pada Indi? Tidak mungkin. Kemarin petang setelah kejadian di bibir jurang itu, Abi mengaku harus mengatakan hal itu kepada istrinya. Dan itu akan dilakukannya secepatnya, malam itu juga. Jadi?
“Hai, Lang, ngapin berdiri di luar seperti itu, masuklah?” sapa Indi ramah, seperti biasa. Tapi, tidak, itu bukan suaranya yang biasa.
Lang tersenyum kecut dan melanjutkan langkahnya masuk. Dia beranjak duduk di salah satu kursi di meja makan itu. Sekilas ia mencuri pandang ke Abi, tapi laki-laki itu hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
“Aku yakin kamu belum sempat sarapan, aku ambilkan piring ya?” lagi-lagi Indi memecah hening diantara mereka.
“Nggak usah In, tapi, kalau kau punya teh panas, mungkin akan sedikit menolong.”
“Ada dong. Sebentar ya aku ambilkan, pakai gula kan?” kata Indi sambil beranjak meninggalkan mereka berdua, setelah Lang mengiyakan pertanyaannya.
Ini saat yang ditunggu-tunggu. Mulut Lang berkemik. Rasa ingin tahunya tak bisa lagi dibendung. “Kau sudah memberitahu Indi soal kita berdua?”
Laki-laki itu menatapnya dan menganggukkan kepala.
“Dia.. tak bereaksi apa-apa?”
Kali ini jawaban Abi hanya mengangkat bahu, tanda tak pasti. Indi masuk kembali ke ruangan itu membawa secangkir teh yang masih mengebul panas. Lang menerima cangkir yang disodorkan Indi, dan dihirupnya teh itu perlahan. Panas. Memberikan kehangatan di tubuhnya yang tiba-tiba terasa demam.
Ditatapnya wajah suami istri yang ada di depannya. Ia telah lama mengenal mereka. Masing-masing sering curhat kepadanya, dan selama ini ia mampu meng-handlenya dengan baik. Tapi kini, ia seolah berdiri di hadapan mereka bak pencuri, pagar makan tanaman, atau apapun namanya.
Mereka terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hanya lirikan mata yang kikuk, yang membuktikan bahwa perasaan mereka teraduk-aduk di dalam sana. Hening, sampai suatu saat…
“Lang, kau mau bicara dengan aku?” tanya Indi sambil menatap tajam gadis yang ada di depannya.
Lang tak tahu harus menjawab bagaimana. Dialihkannya pandangan dari Indi ke Abi. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Tatapannya beralih lagi ke Indi, dan ia menganggukkan kepala.
“Ke kamar yuk?”
Kedua perempuan itu beranjak. Indi melangkah menuju kamar tidurnya, Lang mengikutinya dengan patuh. Abi yang ditinggal sendirian di meja makan hanya bisa diam. Dibiarkannya dua orang perempuan yang sama dicintainya itu menyelesaikan masalah di antara mereka. Ia akan sampai pada gilirannya nanti. Abi percaya, Indi mampu mengatasi Lang.
“Bicaralah,” suara Indi menggema di ruangan 4×5 meter itu.
Tak ada kursi ataupun sofa di kamar itu, hanya sebuah ranjang, karpet berwarna cokelat muda membentang, almari pakaian, dan rak-rak buku, tumpukan kaset-kaset dan CD. Dari sampulnya Lang tahu kebanyakan adalah hasil karya Abi dan koleksinya. Sejumlah kliping tentang artikel yang mengulas kegiatan laki-laki itu tersebar berserak di pojok ruangan.
Mereka kini duduk di karpet yang terletak di pinggiran ranjang tidur. Semula Indi mempersilakan dia duduk di sisi ranjang, tapi Lang menolaknya. Ia merasa tak berhak berada di ranjang pasangan suami istri itu. Dan kini ketika ia duduk berhadapan dengan Indi, ia benar-benar kehilangan keberanian yang sedari semalam dikumpulkannya. Suaranya tercekat di tenggorokan.
“Aku… aku…,”
“Lang, Abi sudah mengatakannya semua kepadaku.”
Suara Indi lirih saja, akan tetapi efeknya begitu besar bagi Lang. Tangisnya tak dapat dibendung lagi. Ditariknya tangan Indi, digenggamnya telapak tangan perempuan yang selama ini bersahabat dengannya itu.
“Maafkan aku In, maafkan aku.” Suaranya terdengar serak di antara isak tangisnya. Indi membiarkannya menangis beberapa saat, dan kemudian “Hhh, boleh aku bertanya Lang?”
Lang berusaha mengendalikan dirinya. Ia mengangguk. Ia siap diinterogasi oleh perempuan yang usianya terpaut 10 tahun darinya itu. Ia tahu dirinya salah, dan tak ingin menyembunyikan apapun dari perempuan itu. Dan ia siap diadili. “Kau menikmatinya?” Lang terkesiap. “Apa maksudmu In?”
“Kau menikmati sentuhan Abi?” tangan Indi memberi isyarat agar Lang tak salah paham, ketika dilihatnya gadis itu merasa tak enak mendengar pertanyaannya.
“Jangan salah paham Lang, aku ingin tahu. Jawablah sejujurnya, apakah kau kemarin menerima perlakuan Abi dengan ikhlas atau terpaksa?”
Lang menatap mata Indi. Akhirnya ia mengangguk.
“Aku, aku. mencintainya,” Lang menjawab sambil menundukkan kepalanya. Ia tak lagi berani menatap Indi.
Hening. Sampai tiba-tiba Lang sadar bahwa Indi sedang menangis dalam diam. Wajahnya menunduk tertutup helai-helai rambutnya yang lurus. Bahunya berguncang menahan isakan. Lang mengangkat lengannya, disentuhnya bahu Indi. Dua orang perempuan, dengan mata basah oleh airmata saling menatap, saling menjenguk perasaan satu sama lain. Mereka melihat sebuah ketulusan. Akhirnya, mereka saling merangkul, dan menangis bersisian.
Perempuan. Makhluk paling sukar dimengerti.
Abi yang kini berdiri di pintu kamar melihat keduanya masih saling berpelukan. Dari suara tangis mereka, ia tahu keduanya saling memahami. Keduanya saling bisa menerima keberadaan satu sama lain. Dan hatinya terasa hangat oleh kehadiran perempuan-perempuan yang kini ada di depannya.
Didekatinya keduanya. Dipeluknya mereka dalam rengkuhan. Dikecupnya ubun-ubun mereka bergantian. Dialirkannya perasaan cinta yang bersemayam di dadanya. Ia yakin keduanya bisa merasakan kasih sayangnya sama besar untuk mereka. Tak perlu saling berebut.
Ruangan itu begitu hening, hanya isak tangis Lang dan Indi yang sesekali masih terdengar. Isakan yang semakin lama semakin lirih tergantikan oleh lenguhan demi lenguhan. Rintihan demi rintihan. Tak satupun dari ketiganya sadar mereka telah saling melucuti pakaian. Tubuh mereka saling bergelut. Kedalaman perasaan mereka mengalir dalam setiap sentuhan.
Abi membagi perhatiannya sama besar kepada keduanya. Menciumi mereka bergantian, meraba keduanya dalam sentuhan memabokkan. Ia sesekali membiarkan perempuan-perempuan itu saling mengerubutinya, menciumi setiap bagian tubuhnya, mengusap bagian-bagian intimnya. Ia menikmatinya. Perempuan-perempuan yang dicintainya. Perempuan-perempuan yang mencintainya. Dan ia menemukan hidupnya lengkap. Sempurna.
Indi menemukan suaminya begitu bahagia. Baru sekali itu dalam hidupnya ia melihat ekspresi suaminya membuncah tak terbendung. Sisi-sisi kehidupan laki-laki itu ia ketahui luar dalam, dan dalam pergulatan birahi itu ia menyadari, ini sisi lain yang dibutuhkannya juga. Ia mencintai suaminya, lebih dari apapun di dunia ini. Dan ketika ia harus menyodorkan sebuah persembahan yang tidak biasa, sebagaimana yang saat ini mereka lakukan, ia sama sekali tidak keberatan. Ia memutuskan berbagi dengan Lang. Perempuan itu layak menerima cinta Abi, juga kasih sayangnya. Dan yang membahagiakannya, ia bisa merasakan ketulusan Lang pada dirinya. Gadis itu tak akan merebut Abi dari sisinya, ia bisa merasakan itu. Tidak seperti yang lainnya. Dipagutnya bibir suaminya dalam sentuhan lembut. Dan ia kemudian juga mencium bibir Lang penuh kasih sayang.
Lang…
Lang…
Lang…
Lang. Kehidupan maha ganjil yang mengasyikkan. Tak terbayang sedikitpun arus hidup akan membawanya sampai titik ini. Titik yang tak pernah terbersit sama sekali dalam otaknya. Irrasional. Ia yang semula gadis puritan, penuh dengan norma-norma, kini lepas dari kekangan. Dinikmatinya pusaran perasaan yang melingkupinya saat itu. Dinikmatinya sentuhan tangan Abi dan Indi yang sekarang mengerubutinya. Bibir mereka menjelajah setiap inchi tubuhnya. Tak pernah ia merasa begitu diinginkan seperti saat itu. Dan ia melihat keduanya, begitu yakin dengan perasaan dan perlakuan mereka.
Lang tahu persis, Abi mencintainya.. Tapi detik itu ia juga tahu, cintanya tak akan lekang dari Indi. Bukan masalah. Ia siap berbagi dengan perempuan itu. Ia tak ingin merenggut Abi dari Indi. Ia cukup puas dengan kasih sayang yang diterimanya. Ia tak peduli lagi dengan rasa ganjil yang semula melekat di hatinya.
Inilah Lang yang baru. Sebuah metamorfosa dijalaninya perlahan. Telur itu telah menetas jadi ulat, yang meretas daun-daun, menggerogotinya sepuas mungkin, dan perjalanan masih panjang baginya untuk menjadi kupu-kupu. Suatu saat nanti, ia akan sampai ke sana. Ia akan sampai ke sana. Entah kapan.
Aku adalah peri
Peri cinta yang baru lahir
Sayapku tumbuh berkelepak
Siap membawaku mengembara
“Kriiiingggg, kriiiinngggg..,” suara telepon itu bertalu memekakkan telinga. Setelan volumenya maksimal, hingga deringnya mencapai setiap sudut rumah yang berhalaman cukup besar itu. Deringnya masih terdengar beberapa kali dan baru berhenti ketika sebuah tangan mengangkatnya.
“Hallo,”
“Hallo.., Ma, ini aku. Kamu sedang apa, kok angkatnya lama?”
“Hmm, gak ngapa-ngapain kok. Aku ketiduran saja tadi ketika menidurkan Randu.”
“Oh ya sudah. Hampir saja aku tutup tadi, aku pikir tidak ada yang di rumah,” jawab suara laki-laki dari ujung sebelah sana.
Diam.
“Ma,”
“Ya?”
“Aku dapat pekerjaan di sini.”
“Eh, ..syukurlah,…. aku ikut senang.”
Kaku.
“Ma, ..aku..,” suara itu ragu, “aku ingin kau segera menyusulku ke sini. Ada pekerjaan juga menunggumu di sini. Kita hidup di sini saja, Ma. Jauh dari segala macam keruwetan.”
Sebuah ajakan. Tak terjawab. Belum. Setidaknya sampai beberapa hari kemudian.
*****
“Jadi kau memutuskan untuk ke Jakarta?”
Lang mengangguk, mengiyakan pertanyaan Abi. Mereka membahasnya di Ruang Rekaman Dua, sembari menggarap sebuah partitur yang akan dipentaskan laki-laki itu bulan depan. Abi memang akan menyelenggarakan sebuah pementasan spektakuler yang akan memakan waktu nonstop selama tiga hari berturut-turut. Di mana hanya seorang Abi yang berada di atas panggung. Ia akan menggeber semua karya yang dibuatnya dua tahun terakhir ini. Karya yang menurutnya terbaik sepanjang karirnya.
“Kuliahmu?”
“Hhh, itu yang aku belum tahu. Mungkin aku akan ambil cuti dulu, dua semester. Bagaimana menurutmu?”
“Aku tidak bisa memberikan pertimbangan apa-apa Lang. Yang tahu persis situasinya adalah kamu. Apakah Denni serius mengajakmu ke sana? Dia… akan kembali kepadamu?”
Kembali Lang mengangguk. Bohong!! Hatinya tak seyakin anggukannya. Tapi rasanya ia tahu hal itu yang harus dilakukannya. Ia harus kembali ke jalurnya semula. Harus.
“Aku hanya punya waktu membantumu menyelesaikan proyek ini sampai lusa depan, besoknya aku harus berangkat.”
Kilatan kaget terlihat di mata Abi yang sedang menatap Lang
“Secepat itu?”
Lang hanya bisa mengangguk. Ia tak ingin menjawab apapun. Ia ingin mengatakan tidak, agar tetap bisa berdekatan dengan laki-laki ini, tapi ia tahu, ini bukan tempatnya. Tempatnya nun jauh berjarak 500 km lebih di barat sana. Tempat yang jauh dari kepastian, dan penuh tanda tanya. Tapi, ia harus berangkat. Ia harus menyusul suaminya.
Semalam ia menemukan jawaban itu, ketika tiba-tiba Randu, dalam tidurnya mengigau memanggil ayahnya. Igauan yang diiringi senyum bocah yang masih polos. Yah, Randu membutuhkan Denni. Randu bahagia berdekatan dengan ayahnya. Ia, ibunya, tak berhak menjauhkan anak itu dari garis keturunannya.
Lantas aku?
Apakah aku akan bisa kembali menjalankan hidupku di samping Denni, setelah kejadian itu? Pikiran itu membersit di benak Lang, tapi kemudian dia mengendapkannya dalam sebuah pemahaman, mungkin, inilah jalan yang dipilihkan Tuhan untuknya: Kembali ke sisi Denni, demi anaknya.
“Lang..,”
Panggilan Abi menyadarkan Lang dari lamunan. Ditatapnya wajah laki-laki di depannya. Wajah yang dua bulan ini berkilas dalam pelupuk matanya ketika terpejam, berkelebatan dalam kesehariannya, memberikan sejenak rasa hangat di hatinya. Kini wajah itu terlihat sedikit pucat. Lang lemah menundukkan kepalanya lagi, tak tahan melihat gurat kekecewaan di wajah itu. Maafkan aku kekasihku, jerit hatinya.
Demam tubuh Lang, membayangkan ia akan berjauhan dari Abi. Baginya laki-laki itu adalah nyala pelita baru dalam hidupnya yang selama ini tak berpengharapan. Dan kini, ia harus meninggalkannya. Ia tak boleh egois memikirkan kesenangannya sendiri. Masih ada anaknya yang belum bisa mengungkapkan keinginannya. Dan ia harus bersabar untuk itu.
Lamunan Lang melayang tak berketentuan, sampai suatu ketika dirasakannya sebuah sentuhan di tangannya. Abi telah memegang kedua tangannya, menggenggamnya erat sambil menatap matanya yang kini juga menatap laki-laki itu.
“Kau akan datang ke pementasanku bulan depan?”
Mata mereka saling menatap. Sebuah anggukan akhirnya menjadi pilihan.
*****
Jakarta,
Akhirnya datang juga aku kepadamu
Mereguk kehidupanmu
Mengais setiap mimpi
Mengisi hari-hari
Di tempat kerjanya yang baru, prestasi Lang cepat melonjak setahun terakhir. Ia seolah menemukan tempat untuk mengaktualisasikan dirinya di Stasiun TV Swasta itu. Sejak masuk pertama kali, dia tahu kepenyiaran televisi, profesi yang ditawarkan padanya sejak awal mula, tak begitu disukainya. Berbeda dengan penyiar radio, di mana hanya suaranya saja yang didengar khalayak, maka profesi penyiar televisi menuntut ia tampil prima setiap saat. Musti dandan, dan rapi berpakaian sebagai seorang public figure. Muka yang harus selalu senyum, dan potensi menjadi sorotan khalayak. Tidak. Ia tidak suka.
Yang lebih tidak membuatnya nyaman adalah kehadiran Denni setiap saat di sekitarnya. Suaminya itu juga bekerja di stasiun tv yang sama, di divisi yang selalu berkait dengan dirinya. Bukan masalah sebenarnya jika rekan kerja mereka bisa memisahkan hubungan kekeluargaan itu secara profesional. Tapi yang sering terjadi adalah sebaliknya. Ketika Denni melakukan kesalahan, selalu Lang menjadi sasaran komplain mereka. Dan kacaunya, dari waktu ke waktu, Denni semakin menunjukkan ketidakmampuannya.
“Sebaiknya kita pulang saja ke Jogya,” kata Denni.
“Apa maksudmu? Bukankah kau yang mengajakku menjauhi keruwetan di sana, kenapa sekarang kau berubah pikiran?” tanya Lang tak habis mengerti, “Hanya gara-gara kau tak mampu, kau akan lari dari tanggungjawabmu?”
“Denni, carilah pekerjaan lain, tapi tak perlu kita kembali ke sana. Kau lihat, aku sudah menurut, menyusulmu ke Jakarta. Carilah pekerjaan lain di sini.”
Diam.
“Kau akan bekerja di mana jika kembali ke sana?”
Tak ada jawaban. Penyakit lama yang tak kunjung sembuh juga. Membara hati perempuan ini. Benar-benar tidak bertanggungjawab. Sangat salah kalau Denni mengira bisa mengajaknya ke sana-sini tanpa perhitungan yang jelas.
“Tidak! Aku tidak akan kembali ke Jogya. Kau boleh lari kemanapun kau mau, tapi aku tidak ingin meninggalkan kota ini, penghidupanku di sini. Karena aku yakin, di Jogya pun kau tak akan melakukan apa-apa.”
Tak ada tanggapan.
Final. Akhirnya Denni balik lagi ke kota asalnya. Dia berkeras membawa Randu. Kehidupan di kota kecil itu lebih kondusif untuk membesarkan anak dibandingkan di Jakarta, katanya. Padahal, Lang tahu persis, Denni sengaja menjadikan anak itu sebagai senjata pamungkasnya agar ia mau mengikuti suaminya itu. Selalu kembali kepadanya karena anaknya ada di tangannya. Tapi tidak, dalam bendungan amarahnya, Lang membiarkan itu terjadi. Biarlah, ia harus kuat berpisah dengan anaknya. Di sisi lain Lang juga ingin melihat seberapa besar tanggungjawab Denni membesarkan Randu. Apa benar ia akan membesarkan Randu dengan baik.
Teori.
Pada akhirnya Lang juga yang mensuplai kebutuhan hidup mereka. Denni tak juga segera bekerja. Pola lakunya tak juga berubah, kongkow setiap malam dengan teman-teman di kampungnya. Siang tidur. Kalaupun dulu kehidupannya tertolong karena ada pekerjaan tetap yang harus ditekuninya, maka kini suaminya memilih menjadi sopir taksi pengganti, yang bisa masuk sesuka hati. Padahal lebih banyak ia memilih gaul dengan komunitasnya yang tidak produktif.
Lang mulai terbiasa dengan hal itu. Setiap bulan ia kembali ke Jogya, menengok Randu. Dipekerjakannya seorang pembantu untuk merawat anak itu. Dan ia secara teratur memenuhi kebutuhan anak dan keluarganya itu.
Ia juga tetap melayani suaminya seperti biasa. Dua hari dalam sebulan mereka berlaku seperti layaknya suami istri. Hanya di tempat tidur. Itu berarti hanya dua kali persetubuhan, yang seperti biasa, tidak menggelora. Selebihnya, mereka, terutama Lang, berjalan di porosnya sendiri-sendiri. Lang merasa semakin jauh dari kehidupan perkawinannya.
Lang memilih hidup sendiri di Jakarta.
Ia menyurutkan langkah dari kepenyiaran, dipilihnya liputan, dunia jurnalistik yang menantang dengan seribu satu tuntutan cara mengejar nara sumber. Otaknya jadi terasah, sibuk, tak memberi kesempatan kepadanya untuk melamun sepicing pun. Tak ada lagi waktu untuk memikirkan ketidakberesan perkawinannya. Dan ia menemukan bakat dan rasa ingin tahunya yang besar itu menemukan salurannya.
*****
Setahun berselang.
Tak ada perubahan pada diri Lang dan kehidupannya. Hanya saja, enam bulan terakhir ini ia kembali menghubungi Abi dan Indi. Setiap bulan ketika pulang, ia menyisakan sehari agar bisa berkumpul dengan pasangan itu. Atau jika keduanya ke Jakarta, pastilah mereka berjumpa dan menyisihkan waktu mereguk petualangan bertiga.
Ada yang diserap Lang dari mereka. Ia seolah memperoleh kekuatan baru untuk meneruskan kehidupan perkawinannya. Dan ia menjadi terbiasa menjalani kehidupannya yang tidak rasional. Sampai suatu ketika sebuah pengalaman, tepatnya rentetan pengalaman membawanya pada sebuah persimpangan baru.
Lang,
Senin depan aku akan ke kotamu. Abi mungkin akan menyusul sehari kemudian. Ia akan mengikuti simposium di Taman Ismail Marzuki. Kau booking kan kamar hotel buat kami, kay?
Kamu baik-baik saja kan? Sampai nanti.salam manis,Indi
Sebuah surat biasa. Seperti layaknya jika mereka akan datang menjenguknya di kota ini. Tapi ada yang tidak biasa pada diri Lang. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada mereka berdua. Sesuatu yang membahagiakannya, yang baru diketahuinya hari ini. Dan ia ingin berbagi dengan mereka berdua. Meski terus terang, ia tak berani memikirkan reaksi mereka.
*****
“Huahh, capek banget aku,” kata perempuan bertubuh tinggi langsing itu sambil meghempaskan tubuhnya di ranjang.
Lang tersenyum menatapnya.
“Memang kamu habis ngapain saja sih. Sampai segitunya?”
“Gila aja Lang, dua hari ini aku nyaris nggak tidur. Biasa, ngurusi sesembarang tetek-bengek kebutuhan Abi kalau mau pentas.”
“Pentas? Bukankah katamu dia hanya akan mengikuti simposium besok itu?”
“Lebih dari itu. Dia harus presentasi di depan seniman yang lain karena ia dicalonkan untuk menerima funding sebuah proyek. Jadi ia minta aku kesini dulu untuk rehearsal segala macam kebutuhannya di TIM, besok itu.”
“Oh gitu. Lantas kenapa dia nggak sekalian berangkat saja bareng kamu?”
“Hmm, malam ini dia musti meeting dulu dengan direktur Lembaga Indonesia Perancis, jadi baru bisa besok pagi bertolak dari sana. Sepertinya LIP tertarik mensponsori dia untuk kolaborasi bersama seorang pemusik Perancis.”
Lang hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Indi. Ia senang akhirnya banyak pihak mengakui eksistensi Abi.
“Dan…, aku sengaja datang duluan karena ..karena kau…,” Indi tak meneruskan kata-katanya. Dia hanya beranjak dari ranjang itu. Didekatinya Lang yang duduk di kursi dekat minibar yang terletak di pojok kamar. Ditariknya Lang hingga berdiri, dan digandengnya perempuan itu ke ranjang.
Lang tak tahu apa maksud Indi mengajaknya ke ranjang. Tidak biasanya perempuan itu bersikap aneh seperti ini. Memandangnya seolah tak pernah bertemu, penuh dengan pengharapan. Lang baru mafhum akan kemauan Indi setelah secara perlahan perempuan itu membuka kancing kemeja yang dipakainya. Lang memang akhir-akhir ini lebih suka memakai baju kasual, jeans dan kemeja, karena memberikan kenyamanan saat ia bekerja. Praktis. Kini kemejanya telah terlolosi. Rabaan tangan Indi menggerayangi punggungnya, melepas kaitan bra yang dikenakannya. Perempuan itu melempar bra hitam itu ke pojok ranjang, dan perlahan jemari lentiknya menyentuh buah dada Lang yang mulus. Dan tanpa ia dapat mengendalikan diri, Indi mulai menciumi wajah Lang, dari kening, ke pipi, dan akhirnya bibirnya menyentuh bibir perempuan itu.
Indi sesekali mengamati ekspresi Lang. Ia ingin tahu bagaimana reaksinya ketika tangannya menjamah tubuhnya. Ia tak dapat menahan diri tadi, ketika melihat perempuan itu semakin hari semakin matang dan mandiri. Sejak lama Indi menginginkan pergulatan berdua semacam ini. Ia tahu, Abi dan Lang sering melakukannya tanpa kehadirannya. Ia ikhlas, ia rela. Hanya saja, entah kenapa fantasinya meliar. Ia ingin sesekali bercinta dengan Lang tanpa kehadiran Abi. Dan kesempatan itu terbuka saat ini. Biasanya ia selalu datang berbarengan dengan suaminya itu, tapi kini, ia ada disini. Hanya berdua, dengan Lang. Dan Indi tak dapat menahan rasa bahagianya, karena fantasinya akan menjadi kenyataan. Ingin direguknya semuanya sampai tetes terakhir.
Seolah mabuk, Lang membalas perlakuan itu. Ia lucuti pakaian Indi. Dan mereka bergelut dalam kelembutan tiada tara. Butir-butir keringat membasahi tubuh mereka bercampur basahan lidah, menjilat satu sama lain. Ia biarkan bibirnya diciumi Indi. Ia biarkan perempuan itu menguasainya. Sampai ketika ia hampir pada pencapaiannya, tiba-tiba otaknya bak terguyur air dingin. Di tengah kenikmatannya itu ia hampir menyebut nama Abi. Padahal, bukankah ia sekarang sedang bergelut dengan Indi?
Perlahan kesadaran Lang mengemuka, birahinya mendingin. Ini bukan hubungan yang ia inginkan. Ini bukan kodratnya. Lang merasa bersalah kepada Abi ketika tubuhnya tersentuh tangan Indi. Tapi, tak ada lagi titik balik. Ia tak boleh memperlihatkan perasaannya ini kepada Indi. Akan jadi sebuah bencana kalau perempuan itu tahu ia ‘menolak’ sentuhannya. Dan ia bisa meradang dan menutup semua lini hubungan Lang dengan Abi.
Selanjutnya yang dilakukan Lang adalah berpura-pura. Ia kini mengambil kendali, segera ingin diselesaikannya memuasi Indi. Ia yakin sentuhannya akan membuat istri Abi itu mencapai puncak orgasmenya. Dan mulailah Lang merangsang setiap titik intim perempuan itu. Sampai akhirnya, sebuah lenguhan panjang dan regangan tubuh Indi mengindikasikan pencapaiannya.
Waktu terhenti.
Lang menemukan kenyataan baru. Dirinya kembali berlaku irrasional. Ada perasaan memberontak terhadap kejadian yang berlalu baru saja. Anehnya, pemberontakan itu membahagiakannya. Ia jadi tahu dirinya normal adanya. Kalaupun selama ini ia mengijinkan sebuah petualangan yang berbeda, maka ia jadi memahami bahwa dirinya melakukan itu semua demi cinta Abi.
*****
Simposium itu berlangsung dengan sukses. Pementasan Abi singkat saja, tapi mengundang decak kagum koleganya. Apalagi ketika kemudian ia menjelaskan konsep bermusiknya, membuat yang lain sepakat bahwa dia memang layak mendapatkan pembiayaan untuk programnya.
Lang sengaja duduk di kursi paling belakang selama acara itu berlangsung. Seperti biasa ia mencoba tak menonjolkan diri di komunitas ini. Biarlah. Ia lebih baik menjaga perasaan Indi dengan cara membiarkan perempuan itu berada di samping Abi dalam setiap penampakan publiknya. Toh, memang itu haknya. Dan Lang tak ingin merebut apapun dari Indi. Jadi, ia memilih menjadi bukan apa-apa. Seperti saat itu.
“Hoii, ngelamun apa lagi sih,” sebuah sentuhan lembut di bahunya menyadarkan Lang. Ditengoknya siapa yang berdiri di sampingnya itu. Abi. Indi juga. Lang tersenyum melihat mereka.
“Kalian sudah selesai?” Mereka menganggukkan kepala.
“Aku ingin bicara dengan kalian,”
“Ah, tentang apa, kok misterius banget kesannya?”
“Hm, sesuatu yang penting untukku, tapi barangkali tidak penting untuk kalian. Aku tidak tahu.”
“Bagaimana kalau kita bicara nanti setelah berada di kamar saja?” Indi menawarkan sebuah kemungkinan. Mereka sepakat.
Lang seolah kehilangan kemampuan bicaranya. Masalah yang dihadapinya cukup pelik, meski dia sudah tahu ini bakal terjadi, dan ia siap menghadapinya. Tapi untuk mengatakan kepada pasangan yang kini duduk di depannya, ia habis keberanian.
“Ayolah kau mau bicara apa sih?” dorong Indi agar ia segera angkat suara. Mereak duduk berjajar di pinggir ranjang. Sementara dilihatnya Abi duduk menyandar di meja rias yang terletak mepet di dinding. Ia bersedekap sambil menatap Lang. Laki-laki itu seolah tahu apa yang akan dibicarakannya. Dan hal itu memberikan kekuatan kepada Lang.
“Aku..aku..aku hamil.”
Wajah-wajah menegang. Senyap. Tak ada suara. Lang melihat Indi begitu shock, menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Abi juga masih lekat menatap mata Lang yang kini sama sekali tak dapat menterjemahkan artinya. Mereka memang tak pernah membicarakan akibat paling logis dari hubungan itu. Mereka tidak pernah menggunakan pengaman apapun. Dan kini ketika buah perbuatan itu menjelma, seolah berubah menjadi petir di siang hari bolong.
Lang tersenyum mafhum melihat reaksi keduanya. Meski tak bisa memastikan, ia sudah bisa menduga sebelumnya.
“Kalian tak perlu panik, aku tak minta tanggungjawab apapun. Hanya, jangan minta aku melakukan hal bodoh,” ujar Lang, “aku akan memelihara kandungan ini dengan seijin kalian. Aku menginginkannya.”
“Tapi tak bisa sesederhana itu Lang, bagaimana dengan Denni?” tanya Abi.
“Aku akan mengatasinya. Ia tak perlu tahu siapa bapak dari janin yang aku kandung ini. Biarkan ia mengira dirinyalah bapak si jabang.”
“Tapi…,”
“Sudahlah. Aku hanya ingin memberitahukan hal itu kepada kalian. Barangkali aku memang gila, tapi aku tulus menginginkan anak ini.”
Tiba-tiba ruangan itu terasa sumpek. Lang dapat merasakan kegetiran dan kekikukan yang terjadi akibat fakta yang baru saja diungkapkannya. Dan ia lebih baik pergi. Ia ingin membawa cikal bakal manusia yang ada di rahimnya itu menjauhi tempat ini. Perasaannya tak enak. Ia yakin sebentar lagi badai akan mengamuk dalam kamar ini. Di dekatinya Indi yang masih terduduk kaku. Diciumnya kening perempuan itu. Kemudian ia mendekat Abi, yang segera memeluknya.
“Aku pamit,” bisiknya lirih di telinga Abi.
Laki-laki itu mengerti. Ia mempererat pelukannya. Ia mungkin tak akan bertemu dengan Lang lagi. Entah sampai kapan. Sejurus kemudian dilepaskannya wanita itu, dan ditatapnya terus Lang yang beranjak meninggalkan kamar. Diamatinya perempuan yang kini berjalan anggun keluar dari kamar itu.
Kini pandangannya beralih kepada Indi. Didekatinya perempuan yang duduk di tepi ranjang itu. Airmata tampak mengalir di pipinya. Diraihnya tangan istrinya itu, digenggamnya erat sambil ia bersimpuh di depannya.
“Kenapa kau mengijinkannya?” bisik Indi tak mengerti, “bukankah kita sudah sepakat, di antara kita sendiri, bahwa kau bebas berhubungan dengan siapa saja, asal tak sampai ada keturunan mewarnai hubungan itu?”
Abi hanya bisa diam. Ia memahami istrinya tertikam oleh kenyataan ini. Ia lebih baik membiarkan pertanyaan Indi tak terjawab dengan kata-kata, meski ia tahu pasti jawabannya: Ia membiarkan Lang mengandung janin keturunannya, karena ia begitu mencintai perempuan itu. Dan ia membiarkan perempuan itu memilih jalan yang dipilihnya sendiri, mengandung anaknya. Lang bisa mengatasi masalahnya, Abi tahu persis tentang hal itu. Dan ia tak bisa melarangnya. Ia hanya bisa berserah pada hidup, yang entah akan membawa mereka kemana.
Diletakkannya kepala di pangkuan Indi. Perih hatinya. Lang telah pamit. Abi tahu, jika perempuan itu telah memutuskan sesuatu, akan terjadi persis seperti itu pula. Dan ia bersiap untuk sebuah kehilangan. Dibiarkan sebuliran air mata mengalir dari pipinya, jatuh ke pangkuan istrinya, tanpa suara.
Aku datang semilir seperti angin menggelitik dedaunan, menawarkan kesejukan dan jangan sekali-kali tunda kepergianku karena badai menjelang, merubuhkan gegunungan
Malam hari, di sebuah ruang tamu, di rumah bercat putih, yang terletak di samping masjid.
Atmosfir ruangan itu begitu mencekam. Seandainya ada jarum terjatuh, rasanya dentingannya akan menggelontang saking keras terdengar. Senyap. Tapi sebenarnya, aroma kemarahan menggema di hati masing-masing orang yang sekarang sedang berada di situ: Seorang laki-laki yang tersenggol egonya, dan seorang perempuan yang mempertahankan cintanya.
“Gugurkan..!” geram si laki-laki sambil menggebrak meja di depannya. Hatinya jengkel. Sedari tadi perempuan yang duduk di depannya itu hanya menangis tanpa suara, tidak mengiyakan maupun menolak kata-katanya. Huh!! Ia merasa diabaikan, tidak dianggap. Perempuan itu baru saja mengaku kepadanya, bahwa dalam rahimnya bersemayam janin yang bukan berasal dari pembuahannya.
“Dulu bisa-bisanya kau menolak tuduhanku bahwa kau berselingkuh dengan Abi. Nyatanya, saat ini kau bahkan bunting gara-gara anjing itu!!”
Lagi-lagi tak ada tanggapan. Wajah Lang begitu beku tanpa ekspersi. Satu-satunya tanda betapa hatinya teriris adalah tetesan airmata di pipinya, deras mengalir mengaburkan pandangannya.
Ia sengaja tidak menanggapi tuntutan suaminya. Ia sengaja mengaku pada Denni. Ingin dilihatnya laki-laki itu terluka dengan kenyataan yang disodorkan di depannya. Dan kini setelah laki-laki itu mengumpat, biarlah. Ia memilih diam, meski di hatinya seribu bantahan dan sumpah serapah pun siap menyembur keluar. Tidak. Ia tak akan menanggapi apapun. Biar Denni bisa merasakan betapa sikap diam yang selama ini menjadi senjatanya, menikam dirinya sendiri.
Rasakan Den, rasakan betapa terhempasnya dirimu ke kabut pekat, ketika kau butuh penjelasan, tapi tak ada jawaban. Bukankah kau sering melakukannya untukku? Terabaikan huh? Asyik ya sensasinya? Begitu menikam keberadaan kita. Menjejalkan ketidakberadaan kita ke dalam jurang tanpa dasar.
Sebuah pemberontakan dalam diam.
Semburat senyum melintas dalam bibir Lang. Senyum kemenangan di tengah aliran air mata yang membasahi bibirnya. Mengerikan jika bisa melihat ekspresi perempuan ini. Wajah bekunya perlahan berubah. Matanya memicing penuh dendam. Tarikan bibirnya ditaburi kesinisan luarbiasa. Keriutan di wajahnya berubah-ubah mencerminkan amarah yang tertahan sekian lama. Dan kacaunya, perlahan tapi pasti senyum di bibirnya berubah, mulutnya tiba-tiba terkekeh geli, sementara buliran airmatanya semakin deras.
“Eh..?” Denni yang sejak tadi mengamati istrinya itu jadi terpana. Apakah perempuan ini menjadi gila?
“Hiks..hiks..hihihihi..hiks…hahahaha…..tak perlu bingung Den. Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya merasa lucu, melihat betapa kau menyumpahi Abi,” perempuan itu berkata-kata.
“Den, apa kau lupa berkaca? Tidakkah kau lihat tahi yang kau balurkan sendiri ke mukamu? Masih ingat Windy kan? Bukankah kau meniduri adik kandungku itu tanpa beban apapun? Kenapa kau tak pernah mengutuki dirimu sendiri untuk laku binatangmu itu?”
Intonasinya begitu dingin. “Tapi..tapi…ini berbeda,”
“Apa bedanya? Kau merasa cukup menyelesaikan masalah dengan kembali kepadaku, tanpa ucapan maaf dan tanpa rasa bersalah? Kau pikir aku akan menerimanya begitu saja? Ohohoho jangan mimpi! Aku bukan perempuan bodoh. Kau tidak kembali kepadaku karena mencintaiku kan? Kau hanya butuh bergantung kepadaku. Membiarkan aku bekerja sehingga kau bisa tetap bergaya dengan kebiasaan hidupmu yang mencari enaknya itu kan?”
Sebuah tuduhan.
“Tidak, jangan menyela! Biarkan aku menyelesaikan kata-kataku dengan laku yang beradab, atau aku akan menyampaikan kata-kataku dengan suara keras, agar orang sekampung tahu borok kita,” hening sejenak, Lang seolah menunggu pemahaman di benak suaminya, “Asal kau tahu, aku tidak keberatan kok mereka mendengar aku dihamili orang lain.”
Suara Lang berdesis penuh amarah. Ia mengangkat tangannya memberi isyarat agar suaminya diam.
“Aku yakin kau akan merasa sangat tercoreng jika mereka tahu apa yang telah kau lakukan kepadaku,” Ia tahu persis, harga diri Denni akan terbanting jika orang tahu kelakuannya. Laki-laki sombong, hipokrit sejati.
“Dengar Den, aku tak akan menggugurkan kandungan ini. Aku akan mempertahankannya atas nama perasaan indah yang aku butuhkan. Bayi di perutku ini akan mengingatkan aku, betapa ada seseorang yang mencintaiku, menyayangiku, meski dia tak bisa aku miliki. Kau bisa terima itu, bisa juga tidak, bukan masalah lagi untukku.”
Tubuh Denni menegang mendengar kalimat terakhir istrinya. Ia tiba-tiba merasa terancam. Perempuan ini tak lagi ragu. Dulu ia berpikir istrinya masih mau menerima dia dan kesalahannya karena perempuan itu takut ditinggalkan, takut berstatus janda. Tapi rupanya ia salah. Lang tak takut apa-apa. Sebegitu besarkah pengaruh cinta yang diberikan Abi? Pertanyaan itu seolah menonjok ulu hatinya. Ya, ia tak pernah memberikan cinta itu kepada Lang. Ia tiba-tiba diingatkan betapa selama ini ia hanya berkutat pada kemarahannya karena istrinya tak lagi berdarah di kala malam pertama mereka. Ia tahu dirinya begitu tidak adil pada perempuan ini. Hampir hatinya melemah, menerima istrinya apa adanya. Tapi ego kelelakiannya spontan menolak. Tidak! Bayangan betapa perempuan ini telah dijamah laki-laki lain sangat menyinggung egonya!
Selama bicara Lang mengamati bahasa tubuh suaminya, ekpresinya, dan ia tahu persis: Tetap saja tak ada harga di dirinya di hadapan suaminya itu.
Ia maklum, dulu memang ia bukan apa-apa di mata Denni, sekedar perempuan yang tanpa keperawanan. Ia tahu dalam diamnya Denni menuduhnya pernah ditiduri laki-laki lain. Dan percuma meyakinkan itu bahwa ia adalah lelaki pertama yang kelelakiannya memasuki tubuhnya. Kini, ketika ia telah mengandung janin dari benih laki-laki lain di rahimnya, ia tahu semakin tak ada lagi yang patut dipertahankan dari perkawinannya.
Lang beranjak dari kursinya, diraihnya tas kerjanya yang dibawa dari Jakarta pagi tadi. Ia memang terbiasa pulang pergi Jogya-Jakarta sebulan sekali tanpa membawa baju ganti. Toh ia hanya sehari dua di Jogya ini.
“Aku pergi.”
“Kau….kau mau kemana?”
Belum lagi Lang menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba pintu kamar tidur terbuka dari dalam.
“Bu..,” suara Randu masih dengan kantuknya. Rupanya anak itu terbangun dari tidurnya.
Denni bergegas menarik tangan anak itu. Bocah yang kini berusia hampir empat tahun itu adalah senjatanya untuk menyakiti hati Lang. Tidak, ia tidak akan menyerah kepada istrinya. Digelandangnya anak itu mendekat ke Ilalang. Anak itu tersentak kaget dengan perlakuan ayahnya yang rada kasar dan kemudian menangis, menatap ibunya.
“Diam! Randu, coba lihat ibumu, dia akan pergi meninggalkan kita. Dia mau kawin tuh sama bajingan Abi,” kata Denni seraya mencengkeram lengan Randu. Badan anak itu jadi sedikit terangkat dan terlihat anak itu menangis ketakutan.
Lang yang semula hendak pergi, tercekat hatinya. Sakit sekali rasanya melihat Randu ditarik dalam pertikaian itu. Lebih sakit lagi hatinya mendengar Denni mengucapkan fitnah yang tidak senonoh itu di depan anak semata wayangnya. Ingin rasanya dia mengumpat laki-laki itu, tapi kala dilihatnya tangis anaknya semakin pilu, ia tiba-tiba merasa lemah. Yah, ia tak bisa pergi. Tidak bisa. Digapainya anak itu. Bocah itu meronta dari cengkeraman ayahnya dan menghambur ke pelukan Lang. Mereka menangis bersama.
Tuhan, biarlah aku tahankan diriku sejenak. Tak perlu bocah ini jadi korban. Dan beri aku kekuatan untuk mempertahankan makhluk yang mulai berkembang di dalam rahimku ini. Cukup sudah, jika Kau kabulkan do’aku ini, aku akan berterimakasih kepadaMu.
*****
Bulan berganti tanpa banyak kejadian.
Lang secara intensif memeriksakan diri ke dokter kandungan. Ia minum berbagai vitamin untuk menjaga kesehatannya. Ia berusaha menetapkan hatinya memelihara janin di kandungannya itu. Ia bahkan telah memberi nama bayi dalam kandungannya. Savitri, itulah nama yang disiapkan buat janin yg kini berusia empat bulan itu. Ia yakin anak itu akan terlahir sebagai perempuan yang lembut, dan ia bertekad akan mendidiknya dengan baik.
Tapi..takdir berkata lain.
Lang keguguran. Jiwanya yang tertekan menghadapi penolakan suaminya tak dapat dipungkiri berandil pada kondisi fisiknya. Sejuta harapannya untuk memperoleh perhatian dari Abi, juga dikuburnya dalam-dalam. Dan akibatnya, janin itu tak berkembang. Ketika dokter kandungan memeriksanya dengan USG, terlihat betapa rahimnya membesar, tapi ‘anak’ itu tetap dalam bentuknya semula.
Malangnya nasibmu, anakku. Aku yakin kau merana sendirian dalam cairan ketubanku. Tubuhku tak cukup hangat menghadirkan kehidupan dalam dirimu. Jiwaku tak cukup kuat meniupkan ruh dalam tubuhmu.
Maafkan aku, Savitri. Maafkan aku. Maafkan aku, anakku…..*sob*
*****
Sesal di kalbu Lang menggumpal, menyesak. Ia marah pada tuhannya. Ia mengumpat betapa tak adilnya takdir dirinya. Ketika ia membutuhkan jangkar untuk tetap pada jalurnya, jangkar itu direnggut sedemikian gampangnya.
Seminggu sejak keguguran, ia langsung kembali bekerja, lebih keras dari biasanya. Diabaikannya tubuhnya yang masih menuntut beristirahat. Disingkirkannya rasa tertikam dalam hatinya. Ia bekerja, bekerja, dan bekerja. Waktu dua puluh empat jam seolah tak cukup mewadahi pelariannya.
“Pulang, Lang. Sejak kemarin aku lihat kau bahkan belum memejamkan matamu barang sebentar. Sana, pulanglah, cobalah berbaring dan tidur, kau membutuhkan itu,” bujuk Jossi.
Hanya kepada Jossi, Lang bisa terbuka. Menuturkan kehilangannya pada rekan kerjanya itu. Tapi, penuturan itu hanya berkilas bak putaran pita seluloid tanpa makna. Mengalir begitu saja tanpa ekspresi apa-apa. Inilah yang membuat Jossi begitu khawatir pada perempuan di depannya itu. Sehari-hari ia mengenal Lang yang begitu hangat. Pancaran hidup dari perempuan itu sangat nyata terlihat, tapi pada saat ia menceritakan kehilangannya, ia begitu dingin. Bahkan tanpa tangis.
Kini, perempuan itu memaksanya mengedit semua pekerjaan yang tertunda, bahkan meski itu bukan project programme yang jadi tanggung jawabnya langsung. Dan Jossi tahu, ini adalah imbas dari kehilangan Lang pada si kecil Savitri.
“Lang…, Lang..!!!” geregetan, sambil memanggil, tangan Jossi menampar pipi Lang. Perempuan ini harus segera ditarik dari puasaran lubang gelap yang menyelimutinya.
Lang gelagapan. Lecutan rasa sakit di pipi kirinya seolah membangunkannya dari tidur panjang. Ditatapnya mata Jossi yang kini tajam menghujam menjenguk isi hatinya. Dilihatnya muka laki-laki itu menawarkan persahabatan, tanpa pretensi, kecuali rasa sayang seorang teman yang mengerti kehilangannya. Dan ia tak dapat membendung lagi kesedihannya yang tertunda. Dibiarkannya lengan Jossi memeluknya. Dalam hatinya ia merasakan kehangatan tangan seorang teman yang mendekap kepalanya lembut, memberikan tempat baginya untuk menangis. Dan ia, mulai menangis.
Lang tak sadar berapa lama ia menangis. Ketika membuka mata, ia menemukan dirinya terbaring di sebuah kamar bernuansa putih. Harum bau karbol menyengat hidungnya, membuatnya nyaris tersedak. Diliriknya punggung telapak tangan kirinya yang terasa kaku, sebuah jarum infus penyebabnya, mengalirkan cairan garam ke pembuluhnya. Otak bekunya serasa teraliri dengan kesadaran. Ah, ia ada di rumah sakit. Dan ia sendiri. Tak ada siapapun di ruangan 3 x 4 m2 itu.
Sendiri.
“Klik..,” pandangannya tersedot ke pintu kamar yang perlahan membuka. Kepala Jossi menjenguk dari sana. Ketika melihatnya, muka laki-laki itu spontan gembira.
“Ah, kau sudah sadar rupanya.”
Lang tersenyum. Ia bisa mengambil kesimpulan dengan cepat, laki-laki inilah yang memboyongnya ke rumah sakit. Hatinya hangat.
“Terimakasih.”
“Lho, untuk apa? Apakah aku sudah memberimu segepok uang untuk bayar biaya rumah sakit ini? Nggak lah. Kau harus membayarnya sendiri nanti, aku nggak punya duit untuk itu,” tutur Jossi menggoda. Senyum Lang tambah lebar. Ditinjunya lengan Jossi lembut. Ia tahu laki-laki itu tidak serius. Toh, biaya kesehatan bakal ditanggung stasiun TV tempatnya bekerja.
“Berapa lama aku di sini?” tanya Lang dengan suara yang masih lemah.
“Hm, hanya dua hari kok.”
“Wah, dua hari aku tak sadarkan diri?”
Laki-laki itu mengangguk tersenyum.
Tiba-tiba Lang sadar laki-laki itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat terakhir mereka ketemu di ruang editing.
“Eh, kau menungguiku terus?”
Kembali laki-laki itu mengangguk dan tersenyum. Sergapan rasa hangat yang mengharukan menerpa perasaan Lang. Ditatapnya laki-laki itu dengan mata yang semakin kabur tergenangi air mata.
“Eits, jangan menangis dulu! Aku sih tidak keberatan kau menangis,” cepat Jossi menyadarkan Lang, “tapi berjanjilah padaku Lang, jangan pernah menahan bebanmu sendirian seperti kemarin itu. Kau tahu, aku adalah temanmu, yang selalu siap menjagamu, kay?”
Bergetar bibir Lang menahan keharuan di dadanya. Teman. Rasanya memang hanya itu yang dibutuhkannya saat ini. Dan laki-laki ini menawarkan bahunya untuk bersandar. Lengannya beringsut. Digenggamnya telapak tangan Jossi erat. Mereka saling menatap. Dan akhirnya tersenyum bersama dalam sebuah pengertian yang hangat.
*****
Hari-hari berikutnya Lang dan Jossi semakin dekat. Mereka sering melakukan editing bersama. Tapi adakalanya mereka terpisah sekian bulan karena Jossi harus syuting ke luar kota.
Laki-laki itu sebenarnya berprofesi sebagai kameraman. Tangannya cukup dingin membesut gambar sinetron demi sinetron. Usianya terpaut dua belas tahun dengan Lang, lebih tua tentu saja. Jadi, jika saat itu Lang berumur 25 tahun, maka usia Jossi sebenarnya baru 37 tahun. Tapi sepertinya penampilan laki-laki itu jauh lebih tua. Rambutnya yang konon memutih sejak muda itulah penyebabnya. Selebihnya, ia adalah laki-laki yang lumayan tampan. Bentuk tubuhnya proporsional, tinggi berat 165/60. Kulitnya putih. Bibirnya selalu tersenyum. Teman-teman Jossi senang gaul dengan laki-laki ini karena dia konyol, pinter melucu. Bahan pembicaraan yang untuk orang lain biasa saja, secepat sontak bisa mengundang tawa segar jika dia membahasnya. Itulah yang disuka Lang pada Jossi.
Di saat senggang tanpa job, Jossi biasanya bekerja paruh waktu di stasiun televisi swasta di tempat Lang bekerja. Saat-saat itulah mereka bisa ngakak bareng. Tak jarang mereka berdua berencana mengerjai teman-teman lainnya. Dan hasilnya, sempurna! Mereka selalu sukses! Selalu saja ada rekan yang mengumpat akibat ulah mereka. Maklum, guyonan mereka selalu memaksa orang meringis kecut.
Hampir dua bulan ini hal semacam itu mandeg. Jossi syuting ke Bandung, dan Lang terjebak pada program berita yang ditanganinya.
“Dhuh, tuan putri kehilangan pangeran ya?” demikian rekan kerjanya menyindir Lang yang tiba-tiba alim, jauh dari otak jail mengerjai mereka.
“Hehehe, iya nih. Aku kok nggak punya keberanian menggoda kalian ya kalau pas dia nggak ada,” jawab Lang sambil nyengir. Dan teman-temannya langsung ngakak mendengar jawabannya itu.
Jossi.
Sebersit rasa kangen menyelinap di hati Lang. Sigap ia meraih gagang telepon yang terletak di mejanya. Dipencetnya nomor telepon seluler milik Jossi. Nada sibuk terdengar. Wah, baru nelepon siapa sih, gumam Lang dalam hati.
“Lang.., ada telepon nih dari Jossi,” kata mBak Tuti yang duduk di sebelahnya. Lhah, rupanya laki-laki itu sedang meneleponnya tepat saat ia sendiri menelepon lelaki itu. Ia tersenyum. Kebetulan yang menghangatkan.
“Bilang ke Jossi, mBak, agar dia menutup handphone-nya. Aku yang akan mengontak dia dari sini,” dan sesaat kemudian Lang me-redial nomor telepon genggam Jossi. Tersambung.
“Hallo..” suara Lang terdengar bergairah. Dan di ujung sana sapaan dengan gairah yang sama terdengar. Senyum merekah di bibir Lang.
“Lang…,” panggil Jossi. Suara itu terdengar tidak biasa, sedikit bergetar. Lang terkesiap.
“Ya..?” jawab Lang lembut. Kesadarannya tiba-tiba mengemuka. Suaranya juga bergetar!!?? Wah, rupanya ia tak bisa menutupi lagi hasrat hatinya pada laki-laki itu.
“Maukah kau menyusulku ke Bandung? Aku kangen.”
Dhuh..!!!
Berbunga hati Lang. Tak sadar ia menganggukkan kepalanya, lupa bahwa Jossi tak bisa melihat anggukannya itu.
“Bisa nggak Lang? Please, aku butuh kehadiranmu saat ini.”
“Oh, okay, aku akan datang. Ke mess kalian kan?”
“Jangan..! Aku tidak ingin kehadiranmu diketahui teman-teman. Sore ini syuting istirahat sampai pengambilan scene malam yang kami jadwal besok. Aku sudah reservasi kamar di Preanger, atas namamu, kau tidak keberatan?”
“Tentu tidak. Baiklah, aku akan mengurus ijin sebentar, dan secepat selesai aku akan menyusulmu.”
“Thanks. Aku tunggu.” Dan hubungan komunikasi itu terputus. Hati Lang membuncah. Ia menemukan kenyataan betapa perasaan Jossi sama dengannya. Mereka lebih dari seorang teman. Dan perempuan itu segera mendelegasikan tugasnya kepada rekan-rekannya yang lain. Itu soal gampang, mereka memang saling pengertian untuk soal seperti ini.
Andaikata punya sayap, rasanya ingin Lang segera terbang ke Bandung. Tapi, ia harus menerima kenyataan, hanya kereta yang bisa cepat mengangkutnya ke kota itu, dan itu yang ia lakukan. Huh…lambat sekali rasanya gerbong-gerbong itu merayap, menyiksa rasa ingin tahu Lang tentang peristiwa yang akan dihadapinya. Jossi pasti akan memeluknya, itu pasti. Selama ini hal paling intim yang dilakukannya dengan laki-laki itu adalah berpelukan. Tapi, apakah dia juga akan menciumnya nanti? Dan apakah akan terjadi keintiman yang lebih dalam? Seribu satu tanya menyelimuti pikiran Lang. Dan ia tiba-tiba tersenyum kecut menemukan dirinya sangat ingin dibelai laki-laki itu.
Secepat sampai di Hotel Preanger, ia bergegas menuju meja resepsionis.
“Selamat siang Mas, apakah ada pesanan kamar atas nama Ilalang?” Sejenak si resepsionis itu melihat monitor komputernya dan setelah jarinya menari beberapa kali di atas tuts keybordnya, dia menatap Lang sambil tersenyum.
“Ada Bu. Kamar 202. Dan kuncinya sudah diambil oleh suami ibu,” tutur si pria.
Suami? Lang tersenyum geli, pasti itu pengakuan Jossi pada pihak hotel. Dan setelah ia berterimakasih, segera kakinya menuju lift yang membawanya ke lantai dua.
Kamar 202. Diketuknya pintu kamar itu perlahan. Sayup terdengar langkah di balik kamar itu. Dan sesaat kemudian senyuman Jossi mengembang ketika membuka pintunya.
“Hai, masuklah.” Senyuman yang biasa. Lang terkesiap. Ia deg-degan. Tak ada kesan laki-laki itu kangen kepadanya. Yang ada hanyalah ekspresi yang sangat biasa, sebagaimana yang selama ini diperlihatkan Jossi. Ups, aku salah menterjemahkan perasaannya? Kutuk Lang dalam hati.
Sambil tersenyum kaku, kakinya melangkah masuk.
Kamar itu lumayan besar. Tata letaknya standar seperti kamar-kamar hotel lainnya. Sebuah ranjang menjadi center point, sebuah meja buffet memanjang di dinding bersebarangan, lengkap dengan TV 21 inch di atasnya dan refrigerator merangkap minibar di salah satu lacinya. Di dekat jendela, dua buah kursi duduk dipisahkan oleh sebuah meja bulat yang kompak. Lang meletakkan tasnya di kursi itu, dan ia membalikkan tubuh. Dilihatnya Jossi berdiri bersandar di dinding dekat remote AC. Laki-laki itu memandangnya penuh rahasia. Tapi ada selintasan tatapan jail seperti jika laki-laki itu merencanakan sebuah kejutan. Lang hanya bisa diam. Ia ragu memulai sebuah aksi, takut salah.
“Kau penasaran dengan undanganku ini?” tanya Jossi memecah kekakuan. Lang mengangguk pasti. Ia memang bingung.
Kembali Jossi tersenyum tipis. “Aku ingin kau menemaniku malam ini. Kau mau?”
Lang tersenyum. Ia mengangguk, masih setengah bingung. Bukankah mereka memang saling berkomitmen untuk ada ketika salah satu dari mereka membutuhkan teman? Apakah Jossi lupa itu?
Dilihatnya laki-laki itu naik ke atas ranjang, kakinya berselanjar, tubuhnya menyandar di kepala ranjang. Tangannya menggapai, memanggil Lang, menepuk sisi samping kanannya. Perempuan itu seolah tersihir, tunduk pada lambaian itu, mendekat, dan ia duduk di sisi yang dipilihkan Jossi. Ia ikut menyelonjorkan kakinya, sementara kepalanya bersandar di dada laki-laki itu. Sebuah pelukan melingkar dibahunya. Pelukan seorang teman.
Seorang teman?
“Lang, aku tahu banyak pertanyaan berkecamuk di otak kamu. Sabarlah, aku akan menjelaskannya kepadamu,” tutur Jossi. Mereka berpandangan lewat cermin yang menempel di dinding depan ranjang.
“Aku ingin kau memahami hal ini nanti dengan jernih,” lanjut laki-laki itu.
Lang tak menjawab, tapi tangan kanannya segera menggenggam tangan kiri Jossi. Tangan itu sedikit berkeringat. Hh, laki-laki ini sedang gugup rupanya. Lang memperat genggamannya, memberikan semangat agar laki-laki itu meneruskan kalimatnya.
“Lang, kau tahu aku sudah berkeluarga?”
Sebuah anggukan.
“Kau masih ingat selama ini kita berkomitmen untuk saling berteman?”
Anggukan berikutnya.
“Apakah kau bisa merasakan bahwa perasaanku ke kamu lebih dari sekedar teman?”
Senyap sejenak, sampai Lang menganggukkan kepalanya lagi sambil tersenyum. Ah, akhirnya pengakuan itu keluar, bisik hati perempuan itu.
“Lang, aku tahu perasaanmu tak jauh berbeda dari aku. Tapi aku sengaja menyembunyikan dan mengekang perasaanku untuk satu alasan. Sebenarnya aku ingin terus bertahan seperti itu, tapi nyatanya aku tidak kuat. Semakin hari, semakin aku tersiksa. Ketika jauh darimu aku kehilangan sebuah jiwa. Dan aku tahu, separuh hatiku terisi olehmu. Separuh lainnya ada istri dan anak-anakku,” Jossi sesaat diam, berharap setiap kata-katanya mengendap dalam kesadaran Lang.
Ketika dilihatnya reaksi perempuan itu positif, ia melanjutkan lagi paparannya. “Aku pun tahu kau tak bisa lepas dari anak dan suamimu Lang. Itu sebuah keharusan, aku tahu. Dan aku tak ingin memporakporandakan kemapanan itu. Aku hanya ingin mengajakmu melanjutkan pertemanan ini ke tahap yang lebih dalam, lebih intim, tanpa musti mengganggu ketenteraman rumah tangga kita. Kau paham?”
Kepala Lang yang masih menunduk mendengarkan kata-kata Jossi itu kembali mengangguk. Ada sebuah perasaan lega di wajah Jossi. Tapi kelegaan itu hanya bersifat sementara karena ada hal paling krusial yang harus disampaikannya pada Lang. Hal yang paling disembunyikannya dari orang lain. Hanya istrinya yang tahu rahasia itu. Dan kini, jika ia memang ingin membangun keintiman dengan perempuan yang ada di pelukannya ini, ia harus mengaku secara ksatria.
“Lang, masih ada satu rahasia besar yang kau harus tahu. Aku akan segera mengatakannya kepadamu. Setelah mendengar rahasia ini, bisa jadi kau akan menarik kesanggupanmu untuk berteman lebih dekat dengan aku. Aku siap menerima resiko itu. Tapi kalau kau menerimaku setelah rahasia itu kubongkar, maka aku akan sangat berterimakasih kepadamu, karena berarti aku tak salah menilaimu. Dan dengar, jangan mempertimbangkannya karena rasa kasihan. Aku ingin kau benar-benar jujur pada dirimu, kay?”
Suara Jossi terdengar semakin serius. Lang mengangkat wajahnya agar bisa menatap laki-laki itu. Menunggu.
“Lang, jangan kau pandangi aku. Aku tak akan kuat mengatakannya kepadamu jika kau menatapku seperti itu. Lihatlah ke depan.” Jossi menyentuh dagu Lang, dan mengarahkan pandangannya ke cermin di depan mereka. Lang semakin penasaran. Setiap pori tubuhnya menuntut agar Jossi segera mengatakan rahasianya.
Dilihatnya bayangan laki-laki itu di cermin. Wajahnya menunduk. Pelukan Jossi di bahu Lang semakin erat.
“Lang..,” suara laki-laki itu bergetar, “aku…aku impoten.”
Impoten??!!
Seperti ada petir menggelegar di dalam kepala Lang. Tubuhnya menegang. Terpana ditatapnya wajah menunduk di balik cermin itu. Aku akan pacaran, selingkuh, dengan orang yang impoten?
Ruangan itu begitu senyap.
Lang memejamkan matanya. Apa implikasinya jika dia melanjutkan hubungan dengan Jossi, perasaan cinta tanpa aktifitas seksual? Apa ia bisa melewatinya tanpa seks? Toh selama ini dia merasa cukup ‘setor tubuh’ kepada suaminya sebulan sekali ke Jogya. Lantas?
Lang membiarkan dirinya berpikir dalam diam. Dikerahkannya kepekaan perasaan men-scanning setiap mili ruangan hatinya: Apa yang kau cari Lang? Bukankah selama ini kau menemukan kedamaian di dekat Jossi? Bukankah darinya kau mendapatkan rasa aman yang kau butuhkan? Tiba-tiba Lang menemukan cara untuk mendapatkan jawabannya.
Dibukanya matanya yang tadi sejenak terpejam. Dilihatnya di cermin, laki-laki itu masih menunduk. Lang beringsut mengangkat bokongnya yang bulat itu. Ia mengangkangkan kakinya, duduk di pangkuan Jossi dengan posisi berhadapan. Kedua telapak tangan Lang menyentuh pipi laki-laki itu, dan mengangkatnya. Ia ingin memandang matanya, agar bisa menjenguk isi hatinya.
“Jos, katakan padaku. Apakah kau mencintaiku?”
Laki-laki itu sedikit heran. Ia semula mengira akan memperoleh cemoohan atau pandangan kasihan dari perempuan ini. Nyatanya tidak, ia justru melihat seulas senyum di bibir Lang. Senyum yang tulus. Dan kini pertanyaan Lang itu membuatnya tertegun. Apakah aku mencintaimu? Apakah ini pertanyaan jebakan, agar Lang punya sarana untuk mencacinya: Laki-laki impoten yang tak tahu diri, yang menawarkan cinta tanpa ‘senjata’? Haruskah ia menjawab pertanyaan itu? Jossi tersenyum perih, bukankah ia tadi mengaku siap apapun reaksi Lang setelah ia mengetahui rahasia paling gelap dari kehidupannya?
“Lang, peri cintaku, aku aku mencintaimu, aku mengasihimu.”
Senyum Lang semakin lebar. Terjawab sudah hal terpenting yang ingin diketahuinya dan dibutuhkannya. Didekatkannya wajahnya ke wajah Jossi. Perlahan diciumnya bibir laki-laki itu, lembut, penuh perasaan. Ciuman pertama kali mereka. Dan setelah itu, ternyata loncatan listrik yang terjadi di antara mereka membanjir. Tanggul yang mereka bangun selama ini untuk mengekang lepasnya rasa cinta, bobol berkeping. Tak ada lagi jarak.
Jossi memeluk tubuh Lang dengan gemas. Kelelakiannya memang tak bisa tegak berdiri. Diabetes Mellitus yang dideritanya lima tahun terakhir memang telah merenggut kekekarannya. Tapi hasratnya selama ini tak pernah padam. Ia masih sangat butuh dipuaskan, dan ia tak ingin egois, dipelajarinya cara paling cepat untuk memuaskan pasangannya tanpa coitus. Ia berhasil bereksperimen dengan berbagai teknik. Selama ini istrinya justru lebih bisa menikmati perlakuannya setelah ia tak mampu ereksi.
Kini, disentuhnya Lang dengan keahliannya itu. Rabaannya di bagian intim perempuan itu dengan cepat membangkitkan birahi. Ia lucuti pakaian Lang hingga tuntas. Ia manfaatkan basahan lidahnya untuk ‘memandikan’ perempuan itu. Dan rabaan jemarinya yang semakin ahli membelai, menusuk dan mencumbui bagian paling intim dari Lang berhasil membawa perempuan itu terbang ke langit lapis tujuh.
Lang mendesah. Baru kali ini ada orang menyentuhnya dengan cara yang khas. Sentuhan yang memabokkan. Ia menikmatinya penuh gairah. Ia lupa laki-laki di depannya itu impoten, yang ia ingat nanti hanyalah bahwa ia mendapatkan orgasmenya berkali-kali. Dan sebagai balasannya, dibiarkannya dirinya begitu liar mencumbu Jossi. Dengan cepat diserapnya ilmu laki-laki itu. Ciumannya, sentuhannya, dan gerakan lidah yang membangkitkan sensasi. Ia menjelajah seluruh tubuh laki-laki itu, ketika sampai di pangkal pahanya, sejenak dipandanginya kelelakian Jossi yang lemas. Dan perlahan disentuhnya kulit luarnya yang berkerut itu. Ditatapnya ekspresi Jossi yang mengernyit nikmat akibat sentuhannya, terutama ketika ujung kepalanya bersinggungan dengan ujung jemarinya.
Laki-laki itu masih bisa merasakan kenikmatan!!
Tumbuh semangat Lang dan ia mulai mencumbui laki-laki itu penuh kasih sayang. Dengan telaten dirangsangnya daging lemas yang kini agak berisi itu. Perlahan tapi pasti, dari lenguhan Jossi, Lang tahu laki-laki itu hampir sampai pada puncaknya. Semakin intensif ia mengelus dan menjilat kelelakian yang lemas itu. Dan tak lama kemudian, tubuh Jossi melenting dan meregang. Ia memperoleh orgasmenya. Pancaran spermanya tak bisa menipu, betapa ia menikmati persenggamaannya dengan Lang.
Tak percaya ditatapnya Lang yang kini tersenyum, duduk di ujung kakinya. Dilambaikannya tangannya pada perempuan itu, yang kemudian mendekat dan menciumnya lembut. Kembali mereka saling melumat bibir, dan setelahnya, berpelukan dalam diam.
“Terima kasih, peri cintaku.”
sayap sang peri mengelepak berkali-kali
tariannya gemulai memikat kembara hati
selimut kehangatan telah menemaninya
dan tak henti si peri berterimakasih
selamat datang, teman dari padang gersang.
Sebuah bayangan gelap menyelinap ke arah dapur. Dari geraknya jelas sosok itu adalah seorang laki-laki, yang bersijingkat mengendap-endap, seolah tak ingin diketahui kehadirannya. Secepat tiba di jendela di balik pintu sebelah kiri dapur, bayangan itu berhenti. Tangannya berupaya melepas kaitan daun jendela dengan hati-hati, sampai akhirnya didapatkannya sedikit celah untuk mengintip ke dalam.
Dalam remang-remang cahaya ruangan itu terlihat Surti tidur terlentang. Laki-laki itu membiarkan matanya beradaptasi dalam kegelapan. Perlahan tubuh gadis pembantu yang lumayan montok semakin jelas. Kulitnya kehitaman, sedikit mengkilat karena butiran keringat yang membasah di sekujur tubuhnya. Posisi kakinya yang mengangkang membuat darah di kepalanya semakin menggelegak. Sudah beberapa malam dia mengamati pemandangan ini, dan dengan cepat nafsunya langsung meninggi.
Beberapa hari lalu ia mencari celah agar pintu kamar itu bisa dibuka dengan leluasa, dan ia menemukan caranya. Ketika kamar itu kosong, ia melonggarkan sekrup selot pintu kamar ini. Selot yang memang sudah tua itu dengan gampang dikerjainya. Dan ia yakin dengan sedikit sentakan pintu itu akan terbuka tanpa banyak hambatan.
Kini, ketika darahnya semakin menaik, segera didorongnya pintu itu dengan berat tubuhnya. “Klek,” suaranya lemah terdengar di malam gulita yang senyap. Laki-laki itu terdiam sesaat. Telinganya bergetar mencoba menangkap barangkali ada suara mencurigakan yang tidak diinginkannya.
Sunyi.
Seringai kemenangan membayang di wajahnya. Matanya memerah memancarkan nafsu binatang yang tak lagi bisa dikendalikan. Ditutupkannya lagi pintu itu sebisanya. Dan perlahan tangannya menarik golok yang terselip di pinggangnya sejak tadi. Disiapkannya benda tajam itu di dekat bantal si pembantu. Sejangkauan tangan. Ia pasti memerlukannya bukan?
Perlahan laki-laki itu mendekat ke tubuh perawan yang terbaring di dipan kayu. Dipandanginya sekali lagi wajah pembantunya. Di dekatkannya hidungnya ke sekujur tubuhnya. Endusannya berhenti di ketiak Surti yang terbuka. Bau apek keringat bocah yang belum bisa merawat dirinya itu begitu menggairahkan, membuat penisnya menegang. Ia terus mengendus tubuh perawan di hadapannya ini. Dan ia tahu persis bagian tubuh mana yang paling diinginkannya. Disibakkannya daster yang sejak tadi sudah setengah terbuka, hingga celana dalamnya yang sedikit kumal, terpampang dengan jelasnya. Tubuh laki-laki itu semakin bergetar menahan nafsunya sendiri. Bulu romanya bahkan saling berdiri, tapi tidak, ia memang tak ingin terburu-buru. Ia ingin membaui terlebih dulu aroma yang jauh dari wangi ini. Ia menyukainya. Perlahan endusannya menuju ke pangkal paha bocah perempuan berusia 13 tahun itu. Dihirupnya aroma vagina dari luar celana dalamnya. Dan perlahan tangannya meraba pembantu kecil itu.
Seperti sudah diperhitungkannya, Surti bergerak, merasakan sentuhan yang membuat lelapnya terganggu. Tapi ternyata ia hanya mengubah posisinya dan tak terbangun. Dan laki-laki itu meneruskan aksinya, dengan kasar meremas kemaluan si bocah dari bagian luar celana dalamnya. Bocah perempuan itu spontan melek, terjaga dalam kebingungan.
“Jangan berteriak!” desis si laki-laki. Cekatan di raihnya golok yang disiapkannya tadi.
Surti kaget dan semakin tidak mengerti. Ia tak tahu kenapa majikannya berada di kamarnya, bahkan sambil menghunus golok, yang kini melekat di lehernya. Mata laki-laki itu melotot garang. Tangan kanannya masih menodongkan golok ke leher sedangkan tangan kirinya dengan kasar melepas paksa celdam rombeng yang dikenakan Surti. Bocah itu semakin ketakutan dan berusaha bangkit sambil berusaha menurunkan dasternya yang tersingkap dengan panik.
“Den, jangan!” bocah itu meronta hendak bangkit.
Meski belum dewasa, naluri kewanitaannya memberikan sinyal bahaya. Bocah perempuan ini bisa merasakan bukan jiwanya yang terancam, tapi sesuatu yang lain, yang ia belum mengerti.
Namun laki-laki itu sudah mata gelap oleh nafsu setan. Dengan kekuatan yang tak sebanding dengan pembantu cilik itu, disentakkannya tangannya ke dada Surti yang baru tumbuh sehingga bocah itu kembali terlentang.
“Diam!!” desis si laki-laki, “secepat kau berteriak, golok ini akan menggorok lehermu, ngerti???!!!!”
Tatapan Surti nanar. Ia setengah mengangguk ketika merasakan perih di lehernya. Sebuah luka telah tergores, dan ia tahu, kalau ia bergerak sedikit lagi, luka itu akan semakin dalam. Ia memegang lengan si laki-laki, berusaha menarik tangan yang memegang golok itu. Tapi semakin dia memberikan perlawanan, semakin kekuatan laki-laki itu menekankan golok ke lehernya. Akhirnya pembantu kecil itu menghentikan usahanya. Ia menangis dalam diam.
“Hehehehe, bagus!”
Laki-laki itu menyeringai lebar. Jantungnya berdegup kencang menyaksikan pemandangan di depannya. Seorang perempuan, tak peduli siapa dia, kini berada di depannya tanpa daya. Sayu mata penuh air mata itu semakin membangkitkan gairahnya. Ia seperti melihat seekor kelinci siap dimangsa si raja hutan. Dan dia adalah si raja itu. Saat ini.
Kembali diselusurinya tubuh yang setengah bugil itu dengan matanya. Dan sekali renggut, daster yang dipakai pembantu cilik itu robek memanjang, memampangkan tubuh yang semula ditutupinya.
Bocah itu semakin ketakutan. Terlihat dari matanya. Ia juga hendak memberontak, tapi lagi-lagi golok di lehernya menekan tajam.
Si laki-laki kembali menyeringai. Dengan satu tangannya yang bebas ia segera melepas celana kolor yang dikenakannya. Penisnya mengacung tegang. Kekuasaan yang sekarang berada di tangannya telah membangkitkan gairah birahi yang sejak tadi memang telah berserabutan menuntut pemenuhan. Perlahan ia naik ke dipan kecil itu, mengangkang di atas tubuh si pembantu.
“Jangan Den! Tolong Den, jangan!!!”
Ditatapnya dengan kejam bocah perempuan yang mulai mengerti apa yang akan terjadi itu. Rintihan memohon belas kasihan itu justru semakin membuat darahnya menggelegak. Rintihan itu seolah aba-aba baginya untuk segera menindih. Dibekapnya mulut si pembantu yang mulai memberikan tanda akan berteriak. Ditindihnya tubuh yang meronta itu. Dijambaknya rambut Surti dengan keras, dan rasa sakit akibat tarikan rambut itu membuat kaki Surti membuka. Tubuhnya masih meronta liar. Dan laki-laki itu kesulitan memaksakan kehendaknya. Semakin keras dijambaknya rambut si pembantu.
“Berhenti! Kalau kau tak mau menuruti aku, bisa kupatahkan lehermu.” Tangannya menekan mulut dan rahang si pembantu kearah yang berlawanan dengan gerak tangan yang menjambak rambutnya.
Surti mendadak berhenti meronta karena kesakitan.
Lutut laki-laki itu segera mengambil posisi di sela paha Surti yang mengangkang. Dilepaskannya jambakan di rambut bocah itu dan kemudian dengan cepat tangannya mengarahkan penisnya yang telah mengacung tegak itu ke lobang vagina Surti, lantas didorongnya kuat-kuat. Dipaksanya kelelakiannya itu menusuk ke lubang yang tak lentur membuka. Gagal. Surti yang kesakitan akibat tusukan di kemaluannya itu kembali meronta dan gerakannya ini justru mempermudah penis itu menusuk kali berikutnya.
Bocah pembantu itu berusaha meronta-ronta dengan liar di bawah tubuhnya. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh yang menindihnya. Tapi percuma. Tenaga laki-laki yang telah kalap oleh birahi dan kekuasaan menghancurkan itu tak terlawan. Rontaan Surti justru dinantikannya. Semakin Surti meronta, pinggulnya semakin bergerak seolah menyambut hujaman demi hujaman penis laki-laki itu.
Bekapan di mulut surti semakin keras. Dan kini tangan si lelaki menekan leher si pembantu kuat-kuat. Sambil menarik dan menghujamkan penisnya bergantian, laki-laki itu kini juga mencari puting susu Surti. Rakus dikulumnya puting kecil itu. Bahkan kadang digigitnya kasar. Dan Surti semakin meronta kesakitan. Laki-laki yang sudah terbakar nafsu setan ini sama sekali tak peduli dan terus melumat puting itu hingga berdarah, dan dihisapnya darah itu dengan penuh gairah.
Dirasakanya gerakan tubuh Surti melemah. Tidak, tidak boleh berhenti, aku butuh keliaran itu, pikir si laki-laki. Dan kemudian kembali tangannya menjambak rambut Surti dan ditariknya ke belakang hingga kepala si pembantu itu menengadah kesakitan.
“Hhmmpp..”
Kepala Surti menggeleng-geleng liar, meronta kesakitan, tapi renggutan rambut ke belakang itu justru membuat pinggulnya melenting naik dan membuat urat penis si lelaki melesak lebih dalam. Gembira karena menemukan cara untuk membuatnya terpuaskan dengan cepat, lelaki itu segera menjambak kuat rambut Surti ke belakang dan memompa hujaman penisnya semakin cepat. Semakin cepat dan cepat sampai tiba-tiba dirasakannya mani panas menyembur dari otot kejantanannya. Dan laki-laki itu melesakkan dalam-dalam penisnya seraya berhenti bergerak.
Sesaat berlalu. Laki-laki itu membiarkan badai orgasme yang melandanya usai. Masih ditindihnya tubuh si Surti, tapi kini dilepaskannya jambakan dari rambut si pembantu.
Sambil mengatur nafas, si lelaki meraih kembali goloknya.
“Jangan pernah sekali-kali membicarakan kejadian ini. Kalau sampai kau membocorkannya, hm, aku tak ragu-ragu untuk segera menggorokmu! Paham??!!”
Bocah pembantu itu mengangguk ketakutan. Ia hanya bisa menangis ketika majikannya itu bangkit dan meraih bekas dasternya, mengelap penisnya yang kini telah layu, dan mengenakan celana kolornya.
Benci ditatapnya majikannya yang berlalu dari kamar itu dengan seringai kemenangan. Tapi apalah dia, dia hanya seorang pembantu cilik dari sebuah desa di pesisir pantai selatan sana. Dan Surti hanya bisa meneruskan tangisnya dalam gelap dan tanpa suara.
*****
Dua hari menjelang lebaran.
Ketika semua orang berpikir untuk mudik, berkumpul dengan sanak kadangnya, maka untuk Lang hari ini begitu menyiksa. Semakin mendekati akhir bulan puasa, suhu tubuhnya bisa naik turun tak karuan, demam. Bayangan bahwa sebentar lagi ia harus sungkem kepada suaminya, meminta maaf untuk kesalahannya selama setahun berselang, membuatnya tak bisa tidur lelap: Lang sebagai istri yang harus minta maaf duluan kepada Denni, suaminya. Kenapa tidak sebaliknya? Jujur saja, ritual itu begitu mengganggunya.
Tuhan, kenapa tidak segera terhapus rasa sakit ini? Kenapa perselingkuhan Denni dan Windy, adik kandungnya tak juga surut dari ingatan? Bukankah dirinya juga tak bersih dari perselingkuhan demi perselingkuhan?
Nama Abi dan Jossi tiba-tiba berkelebatan dalam benak Lang. Dua lelaki itu telah menularkan kekuatan kepada Lang untuk tetap menjalani perkawinannya. Tapi, mereka bukan bagian lagi dari kehidupannya saat ini. Abi hanya masa lalu. Jossi juga. Laki-laki itu pamitan kepadanya beberapa bulan lalu. Ia harus pindah ke Irian Jaya demi karir istrinya. Dan Lang harus merelakannya. Tapi, kenapa ia merasa tak juga lega telah membalas perlakuan Denni kepadanya?
“Hhhhh.,”
“Hei, kok menghela nafas gitu sih?” Lang merasa bahunya ditepuk Yeli lembut dari belakang. Dia tersadar berada di tengah kerumunan orang berbelanja di supermarket Matahari Malioboro.
“Masih perasaan yang sama ya?”
Lang mengangguk, tersenyum kecut. Karibnya semasa SMA itu memang tahu perasaan tergelap di bilik hatinya yang paling dalam. Dua minggu lalu tiba-tiba saja Yeli menelepon ke kantornya di Jakarta. Lama sekali mereka tak bersua, tak juga berkontak kata. Spontan mereka saling cerita kehidupan masing-masing. Dan karena mereka sama-sama berniat berlebaran di Jogya, akhirnya mereka janjian untuk berbelanja bareng hari itu. Di situlah mereka saat ini, terperangkap dalam jejalan manusia yang saling berebut kue kering, sirup, dan kebutuhan lebaran lainnya.
“Sudah lengkap semua kebutuhanmu?”
Kembali Lang mengangguk, dan mereka kemudian antri di lintasan kassa. Menjelang maghrib baru mereka berhasil lepas dari kerumunan massa.
“Eh Yel, cari makanan kecil di Bulak Sumur yuk. Kita bawa ke pinggiran danau di timur kampus. Aku kok tiba-tiba kangen nongkrong di situ.”
“Boleh saja. Tapi kau yakin tubuhmu nggak lelah? Kulihat kau agak pucat hari ini,” kata Yeli sambil melirik perut Lang yang membusung karena usia kehamilannya yang semakin tua.
Ya, Lang memang memutuskan untuk hamil lagi. Ia tidak ingin Randu sendirian. Ia ingin memberinya seorang adik. Di samping itu, ada niatan tersembunyi di hatinya. Jauh di dasar sana, ia ingin mempunyai seseorang yang bisa disayangnya seandainya Randu benar-benar dikuasai Denni.
Dikuasai?
Perih hatinya dengan pilihan kata-katanya sendiri. Tapi kenyataan itu harus diterimanya. Ia merasa, suatu saat dirinya pasti tak kuat menanggung beban perkawinannya. Entah kenapa ia berpikir demikian. Dan dalam benaknya, tergambar satu keyakinan, bahwa Denni pasti akan mati-matian menguasai Randu.
Bagaimana nasib anak itu nanti? Hhh..entahlah, yang pasti ia ingin punya seorang anak lagi untuk ditimang. Dan hari ini, ia mensyukuri keputusannya itu. Ya, ada satu masalah yang telah membuat hatinya kembali berkeping. Masalah besar, yang tidak mungkin ia sebarkan. Masalah yang telah membulatkan tekadnya untuk meninggalkan Denni.
“Hhhhh..”
“Lang,” tegur Yeli lembut, “Kita jadi ke danau?”
Lang menatapnya sendu. Ia memaksakan segurat senyum di bibirnya. Tak cukup berhasil. Tapi ia menyatakan persetujuannya dengan anggukan kepala.
Yeli. Ia sebenarnya curiga melihat sahabatnya hari ini, tidak seceria kemarin. Bahkan kalau tidak salah, ketika tadi menjemput di rumahnya, dia masih melihat pelupuk mata Lang memerah. Habis nangis. Tapi ia tahu persis, tak ada gunanya memaksa Lang bicara. Percuma. Perempuan di depannya ini seperti kerang. Sekali bersembunyi dalam ‘rumahnya’ yang keras, tak bakalan orang tahu apa yang dipikirkannya.
Yeli segera mengarahkan mobilnya ke selatan, menyusuri Malioboro, membelok ke timur. Dicarinya jalan paling singkat ke Bulak Sumur.
Untung masih banyak pedagang makanan kecil di pinggiran jalan kampus terbesar di kota gudeg itu. Mereka segera memborong kue, membeli kolak, dan air mineral secukupnya. Dan kemudian mobil Yeli terlihat meluncur ke bagian timur Kampus Biru itu, ke pinggiran danau yang agak sepi.
Lampu merkuri yang menerangi jalan tak cukup terang menjangkau daerah ini. Bukan masalah, karena beberapa pedagang jagung bakar membawa cukup obor untuk menerangi dagangan mereka. Penjual wedang ronde pun memanfaatkan senthir untuk menerangi gerobak yang dipenuhi stoples kaca berisi gula ronde, kolang-kaling, kacang, dan potongan roti. Lang menghirup bau jahe dari kukusan air mereka, dan tak tahan untuk segera keluar dari mobil yang diparkir karibnya tak jauh dari danau, dan segera memesan ronde yang panas mengepul. Ia menghirupnya segera ketika sampai di dalam mobil.
“Wuiih, kangen banget aku dengan suasana ini.”
“Yupp. Tak cuma kamu Lang. Akupun kehilangan kegembiraan masa-masa kuliah yang mengasikkan. Untungnya kampusku di Surabaya itu suasananya tak jauh beda dari UGM, jadi lumayanlah.”
“Asik jadi dosen?”
“Asiklah. Aku kan memang dari dulu ingin berdiri di depan kelas, menantang mahasiswa berdebat, biar otak mereka rada isi. Sambil sesekali melirik mereka yang ganteng-ganteng ituuuuu.”
Tawa mereka berderai renyah. Dan tanpa terasa mereka kemudian tenggelam berbagi nostalgia tentang masa lalu, tentang gank mereka yang terdiri dari tiga cewek bandel: Lang, Yeli, dan Andin.
“Jadi apa Andin sekarang?”
“Terakhir aku mendengar, dia menikah dengan Rory, anak A3 itu. Dia memilih jadi ibu rumah tangga sepertinya, biar punya kesempatan menjajah suaminya itu kali, hahahaha,”
Lang ikut tergelak membayangkan Andin yang begitu galak, memegang cemeti menunggu suaminya yang terlambat pulang. Dulu Andinlah yang sering mencari setori dengan gank lain yang ada di SMA mereka. Tak hanya gank cewek, gank cowok pun sering jadi sasaran kejailan dia. Endingnya, bila ada kekacauan, Lang dan Yeli yang turun tangan menyelesaikan masalah. Mereka bertiga segera populer di kalangan siswa dan guru di sekolah itu, karena tak saja mereka jail, tapi otak mereka pun isi. Ranking tiga besar pasti mereka sabet. Hanya saja urutan siapa yang ada di peringkat satu, dua, dan tiga, saling berganti antara Lang, Yeli, dan Andin.
Masa lalu yang menyenangkan.
“Lang, hampir jam sembilan malam. Kau..tak ingin pulang?” Yeli berucap lembut sambil menatap wajah Lang yang tiba-tiba agak memucat ketika mendengar kata-katanya. Ia tahu persis ekspresi Lang kesakitan ketika diingatkan untuk pulang.
“Lang, kau harus menghadapi situasi ini dengan jernih. Aku tahu memang menyakitkan tapi bukankah kita tak bisa lari dari kenyataan yang kita pilih?”
Lang terdiam. “Aku..aku tak ingin pulang Yel,”
Belum lagi Yeli merespon kata-katanya, Lang sudah menangis tersedu. Tak kuat lagi ia menahan bebannya. Seharian ini ia mencoba mengebaskan rasa sakitnya dengan mencari ribuan kesibukan: Mencari keperluan lebaran, guyon dengan Yeli, mencoba mengalihkan perhatian dengan bernostalgia ke masa lalu yang menyenangkan, tapi nyatanya gagal. Sekarang, ketika tak ada lagi ‘tembok’ yang bisa dijadikannya sebagai alasan mengalihkan perhatian, ia merasakan dadanya sesak.
Yeli sebenarnya juga curiga dengan perilaku Lang. Perempuan di depannya ini memang sejak tadi ketawa-ketiwi, tapi Yeli cukup kenal siapa Lang dan bagaimana jika sobatnya ini sedih. Mulutnya boleh tertawa, tapi sayu matanya tak bisa menipu. Ia tadi hanya menahan diri untuk tidak bertanya. Percuma. Lang tak akan bercerita apapun kecuali dia memang ingin bercerita. Dipeluknya sahabatnya itu. Dibiarkannya tangis Lang semakin keras.
Sesaat kemudian tangis itu mereda.
“Ada yang bisa aku bantu?”
“Yel, katakan kepadaku, apa sih kekuranganku sebagai istri?”
“Wah, susah itu jawabannya.”
“Beri aku penilaian Yel. Apakah aku benar-benar tak punya harga sebagai seorang istri? Benarkah seorang pembantu lebih bernilai dari aku?”
“Lho, kok larinya ke pembantu sih?” Yeli bertanya tak mengerti.
Tapi, Lang bukannya menjawab, malah sahabatnya itu kembali menangis tersedu.
Busyet, ini pasti ada hubungannya dengan kembalinya Surti yang tiba-tiba hari ini, batin Yeli. Tadi Lang memang sempat cerita kalau Surti mendadak pulang untuk berlebaran. Hm, ada kejadian apa lagi nih?
“Lang, cerita dong, jangan cuma menangis begini!”
“Tadi pagi..tadi pagi-pagi sekali, Surti pamitan pulang. Aku kaget, kenapa dia dadakan begitu. Padahal sebelumnya aku sudah minta dia pulang hari kedua setelah Lebaran! Tapi ketika aku ingatkan komitmennya itu, dia justru menangis.”
“Apa katanya?”
“Dia tidak mau bilang kenapa, sampai aku lihat ada yang ganjil di lehernya.”
“Apa itu?”
“Dia mengenakan selendang di lehernya itu, ketika aku minta dia membukanya, dia tambah nangis,” lanjut Lang sambil masih terisak, “tapi aku memaksanya membuka selendang itu..dia ada ada luka di lehernya Yel.”
“Dia berusaha gantung diri? Atau ada yang cekik dia?”
“Tidak Yel..dia..dia…uhuhu,” Lang tak bisa melanjutkan kalimatnya. Ledakan tangisnya kembali menyekat kerongkongannya…sampai akhirnya…
“Dia diperkosa Denni,”
Yeli terkesiap. Lidahnya kelu. Ia tak tahu lagi apa yang harus diucapkannya untuk menghibur Lang. Dibiarkannya perempuan itu menghabiskan tangis dalam pelukannya.
******
Malam itu Lang akhirnya sampai di rumah tepat tengah malam. Sebagian dirinya menolak pulang, tapi Yeli mengingatkan bahwa Randu, anaknya yang sulung pasti mencarinya.
“Pulang Lang. Kalau tidak untuk Denni, maka lakukan itu untuk Randu.”
Dan pulanglah dia.
Dibukanya pintu depan dengan kuncinya. Ruang tamu masih temaram diterangi lampu di pojok meja. Tudung lampu yang berwarna putih itu membiaskan bayangan khas di dinding.
“Lang.”
Suara Denni.
Tubuh Lang spontan kaku mendengar suara itu. Hal terakhir yang ingin ditemuinya hari ini adalah Denni, tapi ternyata suaminya masih duduk di pojok dekat televisi, menungguinya pulang.
Lang berusaha menjangkau sofa terdekat. Ia tak punya lagi energi untuk berkonfrontasi dengan Denni. Ia harus duduk, tubuhnya lemas. Kehamilannya seolah menjadi berat sekali. Ingin sekali ia langsung menuju kamarnya, tapi kakinya menolak. Akhirnya dihempaskannya sedikit tubuhnya ke sofa panjang dekat pintu masuk.
Lang duduk diam. Ia bahkan tidak bergerak ketika suaminya mendekat. Tidak. Cukup sudah toleransinya. Ia tak ingin berubah pikiran. Sedangkan dari nada suara Denni memanggilnya tadi, ia tahu suaminya itu menuntut permakluman.
“Lang….,”
Diam.
“Lang, tolong pandang mataku,”
Pandang? Tidak! Lang tidak lagi kuat memandang suaminya tanpa amarah. Jadi lebih baik tidak! Ditangkupkannya kedua telapak tangannya menutup wajahnya.
“Lang..,”
Dirasakannya tangan suaminya memegang lengannya. Tubuh Lang gemetar hebat. Ingin ditepisnya tangan itu, tapi itu berarti dia akan membuka wajahnya, matanya, dan ia akan melihat Denni. TIDAK!!!
“Hhhh, Lang…tolong pandang aku Lang,” bisik Denni lirih, “maafkan aku.”
Degg!!!
MAAF?????
Seumur-umur Lang baru mendengar kata ini diucapkan suaminya.
Tuhan, apa yang harus dia lakukan? Seribu amarah tentang perilaku suaminya tak pernah pergi dari hatinya. Bahkan ketika ia menghancurkan diri, masuk juga ke lumpur, agar sama kotor dirinya, tapi tak juga amarah itu hilang.
Setiap detik ia juga mengharap suaminya meminta ampunan, dan tak pernah itu datang.
Kini, ketika ia memutuskan untuk pergi, justru Denni mengucapkannya.
Haru biru pertentangan batinnya membuat Lang lemas. Kesadarannya terenggut. Ia terkulai pingsan. Ketika sadar, ia telah berada di ruangan bernuansa putih. Rumah sakit. Dilihatnya perutnya mengempis. Panik. Otaknya dimintanya bekerja, agar menuntut bertanya kemana isi perutnya, tapi tak mampu.
“Anakku..,” bisiknya lemah..tak ada jawaban…
“Anakku!!!! Mana anakku???” Ia akhirnya bisa berteriak. Kepanikan menggerogoti pikirannya. Ia berusaha bangun tapi kepalanya seolah ditimbuni berton-ton pasir. Berat sekali.
Tubuhnya menuntut untuk lelap kembali. Pengaruh obat bius rupanya masih kenatl dalam darahnya. Tapi sekali lagi otaknya tak mau menyerah. Tidak, ia tak boleh kehilangan Gading. Cukup sudah dulu Savitri menghilang dari kehidupannya. Tapi tidak dengan Gading.
“TIDAAAAAAAAAK..!!!!”
“Tenang, tenang,” ujar seorang perawat yang segera masuk mendengar teriakannya.
“Mana anakku, mana Gading??!!!”
Lang berteriak menuntut anaknya. Ia meronta ingin mencari, tapi lengan-lengan kuat menariknya agar tetap berada di ranjang. Jarum infusnya bahkan lepas. Tapi ia tidak peduli, sampai seorang suster menggendong seorang bayi mungil dipelukannya.
“Ibu tenang dulu, sebelum ibu tenang kami tak bisa memberikan bayi ini.”
Lang menatap bayi itu. Ya, itu Gading. Ia bisa merasakannya. Kepalanya seperti terguyur es. Ada kelegaan disana dan ia mencoba mengendalikan diri. Ia memang tak butuh apa-apa..ia hanya butuh Gading, bayi mungil itu.
Tenang Lang. Tenang.
“Suster, berikan bayiku..berikan bayiku,” suaranya atau lebih tepat rintihannya terdengar memelas. Tangis mengembang di pelupuk matanya.
Para perawat yang berada di ruangan itu seolah merasakan kebutuhan Lang yang amat sangat atas kehadiran bayinya. Dan mereka sepakat untuk segera mengulurkan bayi itu dalam pelukan Lang.
“Gading…,” panggilnya lemah. Dipeluknya anak itu. Dipeluknya erat bayi laki-laki yang kemudian diketahuinya harus dilahirkan dengan bedah caesar. Ia tak peduli rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia hanya ingin bayinya. Gading.
(Di sanalah ia tetapkan sebuah kekuatan baru. Kekuatan yang berasal dari darah dan dagingnya sendiri, yang tak mungkin meninggalkannya.)
TAMAT

~ oleh archilis pada Kam, 23 April 2009.

 
%d blogger menyukai ini: