Want To Share

Aku mau sharing pengalamanku dengan sex. Aku sekarang 23 th. Pertama kali aku kenal sama sex itu 10 th yang lalu. Aku baru kelas 1 SMP. Namanya Mas Syam(sebut aja gitu). Dia karyawan papaku yang tinggal dirumah. Karena Papaku harus bolak alik keluar kota. Jadi Mas Syam disuruh jaga rumah. Mas Syam itu perawakannya tinggi dan besar. Aku dan Mas Syam kurang lebih beda 13 th.
Kejadiannya waktu siang hari. Sepulang dari sekolah aku langsung mandi dan ganti baju. Karena aku mau bikin tugas dilantai bawah, aku memakai celana pendek hitam dan singlet merah karena lantai bawah hawanya panas. Kebetulan rumah aku lagi kosong. Mama dan adikku sedang dirumah nenek. Aku disuruh nyusul setelah pulang sekolah karena esoknyatanggal merah yang artinya libur sekolah. Karena ada tugas jadi aku memutuskan untuk membuat tugas dulu baru minta antar Mas Syam ke Rumah nenek.
“Lagi ngerjain apa Vania?” Mas Syam negur.
“Oh, ini lagi ngerjain tugas. Ga papa kan Mas? diatas sendirian takut. hehehe”
“Takut apaan? Takut setan?” Mas Syam menggodaku.
“Ih, apa sih ni… Aku kan jadi takut.” Aku emang payah banget.
Aku gaberani sama yg namanya Hantu. hehehe.
“Emang disini ga takut? disini kan Hantunya lebih serem.” Kata Mas Syam sembil menghampiriku dan berdiri di sampingku sambil melihat tugas yang ak buat.
“Ah Mas Syam ini. Aku takut nih…” Aku ngerengek kaya anak kecil. Emang masih kecil seh. hehehe.
“Van, tangannya alus banget” Mas Syam membelai-belai tanganku.
“Ih, Mas Syam ak merinding nih. orang lagi ngerjain tugas juga.” sambil menepis tangan Mas Syam.Mas Syam akhirnya mengambil kursi dan duduk di tepat disamping aku.
Awalnya aku merasa sedikit risihkarena nafas Mas Syam terasa dipundakku.
“Kamu wangi ya Van. Kam pasti pakai body lotion yah?”
“Jangan iseng ya Mas, ntar ga kelar-kelar nih!”
Mas syam malah mencium pundakku dan terus keleherku. Aku merinding tapi aku ga bisa menegurnya karena ada rasa yang bagaimana gitu.
Akhirnya Mas Syam mencium bibirku. Aku bingung harus bagaimana aku belum pernah dicium laki-laki.
“Wah Mas orang ypertama yang nyium kamu ya Van?” Kata Mas Syam meledek. Aku ga bisa menjawab hanya bengong aja.
“Ya udah kamu selesain tugas kamu dulu deh.” lalu Mas Syam bangkit dari kursi menuju dapur. Tapi aku jadi ga konsen ngerjain tugasnya. Akhirnya aku tutup buku tugas nyontek aja ah’ pikirku.
“Udah selesai? Kok ditutup bukunya?” Aku kaget ternyataMas Syam udah ada dibelakangku lagi. Mas Syam berjalan menuju kearahku.
“Mas mau apa lagi?” Jawabku gemetar dan takut sekali.
“Mas mau cium aku lagi yah?”
“Kalo iya kenapa? hehehehehehehe dasar anak kecil” Mas Syam tertawa seolah mengejekku.
“Dasar anak kecil? Aku bukan anak kecil tau! Aku kan udah gede!”
“Masa? mana dadanya aja masih rata gitu…” Ledek Mas Syam.
Aku paling benci kalo di bilang anak kecil.
“Enak aja. Aku udah pake BH tau!!! Sembarangan!”
“Mana buktinya?” goda Mas Syam untuk memancingku.”kasi Mas lihat dong kalo udah pakae BH…”
Saat itu aku termakan omongannya Mas Syam. Aku buka kaos singlet merahku.”Nih aku udah pake BH kan!”
Lalu Mas Syam berjalan semakin mendekatiku.
“Iya udah pake BH. Tapi kamu lebih bagus ga pake BH Vania nanti tetenya bisa gede jadinya.” Aku bengong denger kata-katanya Mas Syam. Mas Syam alu memegang pipiku. Lalu diciumnya aku sambil dibelai-belai rambutku.
Aku merasakan jantungku berdebar kencang dan ada rasa yang tidak bisa aku gambarkan saat itu.
Mas Syam memainkan lidahnya didalam mulutku sambil tangannya mulai membelai buah dadaku. Aku merasakan kenikmatan yang tak mampu aku lukiskan. Tangan Mas Syam menggerayangi punggunggu sambil terus menciumi pipi, bibir, dan leherku. Tiba-tiba aku kaget karena ikatan BHku lepas. Dengan sigapnya Mas Syam melepas BHku dari buha dadaku.
“Mas aku malu!!!” Aku menutupi buah dadaku. Mas Syam berjalan mundur beberapalangkah. Lalu melepaskan tanganku dari buah dadaku. Lalu Mas Syam Mengangkatku untuk didudukan di atas meja.
“Kenapa mesti malu? Tetenya bagus kok Van. Masih kecil sih tapi setelah ini pasti jadi lebih besar” Mas Syam tersenyum.
Lalu Mas Syam mulai menyentu buah dadaku. Aku merasa kegelian namun tidak bisa menolaknya. Buah dadaku diremas-rema dengan kedua tangannya. Kemudian mulutnya menciumi aku lagi dari leher turun ke dadaku. Tangan kanannya dilepas dari buah dadaku lalu mulutnya mulai mengulum punting susu kananku. Mmmmh… mmmmh… hisapannya membautku terbang ke awan. Tangan kirinya terus meremas-remas buah dadaku yang kiri. Tangan kanannya mulai turun kebawah. Kemaluanku mulai dibelai – belai olehnya. Aku merasakan sensasi yang benar – benar dasyat. Mas Syam membuka celana pendekku dan celana dalamku. Dalam Sekejap aku sudah telanjang bulat. Kemaluanku langsung dibelai belainya.
“Van, Mas buka baju sebentar.” Aku melihat Mas Syam mempreteli bajunya satu-satu sampai akhirnya polos. Aku sedikit kaget saat kejantanya menunjuk kearahku. Lalu Mas syam menyentuh kemaluanku lagi. Mas Syam mambuka kakiku lebar, kemudian ditenggelamkankepalanya di kemaluanku. Mas Syam menilati mengigit dan menyodok kemaluanku dangan lidahnya. Kemaluanku sudah basah dan Mas Syam mencoba menyodok-nyodokkan jari tengahnya ke kemaluanku. Ah… mmmhhhh… ada rasa nikmat yang sulit aku katakan.
“Mas… mmmmmhhh… Mas syam…” tanpa ba bi bu dimasukkannya kejantannya ke dalam kemaluanku. “Arghhhh… sakit Mas… ahmmmhhh…” Aku kesakitan namun juga kenikmatan. “Tapi enak kan Van…” Mas Syam mulau menggoyangkan badannya. Kami melakukannya dengan posisi aku duduk setengah tidur dan Mas Syam berdiri.
“Mas… mmmmmhhhhh… Massshhhh… Enak Massss…” Mas Syam mempercepat goyangannya dan tiba-tiba Mas Syam menarik kejantannya dari kemaluanku. Dikeluarkan cairan putih itu di lantai. Aku merebahkan badanku diatas meja. Lemas tak berdaya. Mas Syam mengambil tisu dan melap cairannya itu. Setalah itu Mas Syam naik ke atas meja dan telentang disampingku.
“Enak ga Van?” tanya Mas Syam dan disambut dengan anggukanku.
Mas Syam membalikan tubuhnya ke arahku. lalu memandangi wajahku. Akupun memandangi wajahnya.
“Kenapa melihat aku seperti itu Mas?”
“Kamu cantik van tanpa busana gini.”
“Ah Mas Syam bisa aja. hehehe”
Lalu Mas Syam mencium bibirku sekali lagi.
“Mandi yuk… abis itu aku antar kamu ke rumah nenek”
“Gendong dong Mas… Aku cape nih… Aku kan masih kecil… hehehe…”
Mas Syam mencubit puting susuku dan turun dari meja. Lalu Mas Syam mengangkatku ke kamar mandi. Akhirnya kami saling menyabuni tubuh satu sama lain.
Setelah selesai mandi aku diantar ke rumah Nenek naik mobil. Sepanjang jalan, tangan Mas Syam terus menggerayangi buah dadaku. Saat di lampu merah Mas Syam mencium aku. Aku hanya diam saja.

~ oleh archilis pada Rab, 22 April 2009.

 
%d blogger menyukai ini: