Asal Usul Gandong (PELA) & Tonggak Sejarah Terbentuknya Pela Beinussa Amalatu – Hatuhaha Amarima

Asal usul gandong (Pela) yang ditulis sesuai aslinya yang ada di negeri Hulaliu.

asal-usul-gandong-pela
Tonggak Sejarah Terbentuknya Pela Beinussa Amalatu – Hatuhaha Amarima
Tonggak sejarah yang menandai hubungan pela antara kedua masyarakat, adalah Perang Alaka (Sebagian menyebutnya sebagai Perang Hatuhaha Pertama) yang terdjadi pada tahun 1571 antara Hatuhaha dengan Portugis. Dan Perang Hatuhaha ke-dua yang terdjadi pada tahun 1637 antara Hatuhaha dengan Belanda. Dalam Perang Hatuhaha Pertama, Tuhaha mengirim kan bala bantuan malesi-malesi yang di ambil dari sembilan soa, yang dipimpim oleh Kapitan Aipassa, Patilapa dan Soumaha. Peperangan terjadi di daerah-daerah Kabau, Kailolo, Rohomoni dan jalan-jalan menuju Alaka. Setelah peperangan selesai, diadakan konsolidasi oleh kapitan-kapitan Tuhaha. Hasilnya bahwa malesi-malesi yang mewakili Soa Sopake dan Amahutai dinyatakan tewas seluruhnya dalam pertempuran tersebut. Tercatat marga-marga yang gugur dalam pertempuran tersebut, antara lain Sipalasi, Tulhandatul, Nustan, Matahelemual, Mataheloya, Makitabessy, Pakalesja, Latuhenakawan, Tomulya, Tehupatawa, Halatua, Nanuasa, Tehunawan, Peilekenon, Kisaulija dan Onasaa, bersama marga lainnya yang tidak dijelaskan sampai hari ini. Semua malesi dari Tuhaha dikuburkan pada suatu tempat khusus yang bernama Ama Hatuhaha Tuhaha di Alaka.
Dengan peristiwa itu, maka pada tahun 1571 Hatuhaha Amarima mengankat sumpah dengan Tuhaha sebagai Orang bersaudara, yang kemudian diabadikan sebagai Pela Darah atau Bata Karang. Setengah abad lebih kemudian, tepatnya pada tanggal 5 maret 1637, pecah Perang Hatuhaha Kedua yaitu perang antara Kerajaan Hatuhaha dengan Belanda.
Disebutkan, perang ini dilakukan oleh Belanda melalui empat tahapan penting hingga akhirnya mencapai jantung pusat pertahanan Hatuhaha di Alaka.
Pertama, pihak Belanda dipimpin olhe Caan dan Deutekon mendarat di Kabau dengan menggunakan delapan kora-kora. Pertempuran ini terjadi hanya di sekitar Pantai Kabau, dan berhasil menduduki daerah Kabau.
Kedua, melakukan penyerangan ke Kialolo dengan mengerahkan 1016 prajurit yang terbagi kedalam tiga kelompok yang dipimpin olhe Major Piere du Cams.Mereka menyusuri gunung-gunung terjal dan batu-batu karang yang tajam. Belanda akhirnya menduduki markas-markas pertahanan yang dibangun di Kailolo. Disebutkan, dalam pertempuran ini banyak rakyat Kailolo yang mendjadi korban. Rumah-rumah dibakar, dan benteng-benteng yang terbuat dari batu, habis dihancurkan.
Ketiga, melalukan penyarangan ke pusat Kerajaan Hatuhaha. Dalam penyarangan ini, Kerajaan Hatuhaha membangun pertahanan di lereng-lereng bukit. Mereka menggulingkan batu dan melempar Tentara Belanda dengan abu, sehingga jatuh korban di pihak musuh.
Dan keempat, Belanda menyerang dengan mendatangkan pasukan panah Alifuru sebanyak 385 orang yang dipimpin oleh Kapitan Sahulau, Sumeit dan Sisilulu.
Sedangkan pimpinan Kerajaan Hatuhaha adalah Kapitan Rambatu, Kapitan Ririasa dan Kapitan Tihulae. Dalam peperangan inilah Kerajaan Hatuhaha adalah mendapatkan bantuan dari Tuhaha sebagai tanda dari solidaritas pela. Pada tahun1638 Latu Ulisiwa Kapitan Aipassa mengirimkan bantuan malesi-malesi yang diambil dari tujuh soa yang ada di Tuhaha, dan dipimpin oleh Kapitan Sasabone, Kapitan Pattipeiluhu dan Kapitan Polattu. Namun, nasib tak beruntung dialami oleh pasukan Kapitan Pattipeiluhu. 30 anak buahnya gugur di medan perang sebagai bunga bangsa yang menghiasi Tanah Alaka hingga saat ini. Kapitan Pattipeiluhu ditangkap oleh Belanda dan diikat lalu dikurung dalam kurungan besi. Mendengar kabar kekalahan Kapitan Pattipeiluhu di Alaka, Kapitan Aipassa memutuskan untuk berangkat ke Alaka, dan memimpin peperangan bersama Kapitan Hatuhaha.
Setelah berjuang gigih menghadapi musuh, akhirnya Kapitan Pattipeiluhu dapat dibebaskan sehingga peperangan dilanjutkan dengan kepemimpinan trio Kapitan Hatuhaha, Kapitan Aipassa dan Kapitan Pattipeiluhu. Dengan kepemimipinan trio kapitan ini, pihak Belanda kemalangan akibat kocar-kacirnya pertahanan mereka. Disebutkan Belanda dapat dikalahkan, walaupun harus dibayar dengan gugurnya Kapitan Rambatu dan beberapa orang yang terlibat dalam peperangan tersebut. Dan rakyat Hatuhaha dapat menikmati kebebasan.
Demikianlah, peperangan ini kemudian semakin menambah eratnya hubungan Pela antara Tuhaha dan Amarima Hatuhaha. Perasaan senasib seperjuangan telah mengantarkan masyarakat dari kedua pulau yang dipisahkan oleh lautan itu, menjalin hubungan keakraban satu sama lain !
Lagu Panas Pela :
Hena Masa Ite, Tounusa Amalatu (Paperu), Haturesi Rakanjawa (Hulaliu) Pela-gandong Kampong Mahu, Tulehu, Laimu en Pela Sila

~ oleh archilis pada Sen, 20 April 2009.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: